Sidikalang- Dairi Pers : Taman Wisata Iman (TWI) yang sempat menjadi mascot Wisata Kabupaten Dairi kini kondisinya memprihatikan. Jorok dan tidak terawat menimbulkan kesan seram dan angker. Taman yang seyogiyanya menawarkan keindahan itu kini berubah lebih mirip menjadi Taman Wisata Honor. “ Sebenarnya lokasi ini bisa juga mendatangkan pendapatan tinggi kalau ditawarkan menjadi lokasi shoting sinetron atau film berbau horor. Tinggal bagaimana sebenarnya pengelolanya menjual dan menawarkan potensi luar biasa ini”

Demikian Hulman Sinaga SH, MH ketua LKPNI ( Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia) Kabupaten Dairi Selasa (27/10/ 2026) . Dikatakan Hulman Sinaga dulunya Taman Wisata Iman Dairi sempat menjadi mascot dan idola PAD (Pendapatan Asli Daerah). Banyak wisatawan dari luar Dairi dan tentunya menjadi tujuan wisata local Dairi melihat miniature keberagamanagama di punggung bukit Sitinjo tersebut.
TWI yang menjual keindahan kebhinnekaan dan menawarkan keindahan pemandangan kota sumbul dari puncak bukit Sitinjo sepertinya sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Taman wisata yang diperkirakan sudah menyedot dana hingga triliunan rupiah itu harusnya tetap bisa mendatangkan PAD. “Sederhana saja bagaimana mungkin modal hingga triliunan rupiah tidak bisa memberikan keuntungan. Tidak bisa dipungkiri kemampuan dan kreatifitas pengelolanya pantas dipertanyakan dan dievaluasi”tegas Hulman.

Dikatakan dengan kondisi memprihatikan itu namun TWI masih terbuka bagi pengunjung. Lantas bagaimana konsumen mau berkunjung kalau justru yang dipertontonkan adalah ketidaknyamanan. Bagaimana konsumen mau nyaman melihat sejumlah bagunan yang menjadi obyek wisata justru ditumbuhi rerumputan liar. Miniatur tidak terawat penuh dengan Jamur, Tembok ditumbuhi tanaman rambat. Dan sebahagian gedung dibiarkan terbengkalai dan terasnya ditumbuhi rerumputan liar. Jika konsepnya keindahan namun faktanya demikian tentu konsumen akan merasa dirugikan.

Bukan hanya itu jembatan saja ditumbuhi rumput liar . Dan paling menyolok disebutkan jejeran ratusan pot bunga berwarna hijau sepanjang jalan hanya menghabiskan anggaran karena tanaman yang dipelihara hanya rerumputan liar. “Apa mungkin konsumen datang ke lokasi ini dengan menawarkan pemandangan tidak estetik itu?”jelas Hulman.

Namun demimian Hulman menyebutkan pengelola TWI dengan asset triliunan rupiah itu sebenarnya bisa kreatif untuk mendapatkan PAD. “Banyak cara dan inovasi dilakukan pengelola misalnya menawarkan lokasi ini untuk pembuatan film atau sinetron horror. Atau mengubah tujuan awal Wisata Iman menjadi wisata honor. Atau menjadikan lokasi ini menjadi taman hutan oksigen.

Banyak cara untuk tetap menjadikannya mendatangkan PAD . Alasan efisiensi, operasional minim dan beberapa alasan yang Dicocok cocokan sesungguhnya hanya pembenaran . Manusiawi jika mencari kambing hitam sebagai alasan pembenaran . Daripada lelah mencari alasan ada baiknya dikaji kembali sasaran konsumennya sehingga tetap mendatangkan PAD. Jika konsep menawarkan oksigen segar maka marketingnya fokuskan konsumen penikmat alam. Demikian selanjutnya jika konsumennya orang perfilman maka cobalah marketingnya menawarkan ke rumah rumah produksi yang ada di Indonesia ini, pungkas Hulman (Hen)

+ There are no comments
Add yours