Jika beberapa tahun silam di pusat ada orang yang digelari menetri segala urusan . Nah disini dibawah pusat ada yang mirip mirip namun masih skala mikro. Ini namanya LBP ( singkatan : Las Bayon Pasudahon) . Masih muda bertubuh tegap dan berwibawa, selintas tidak tau apa apa padahal aslinya sangat tau apa apa. Infonya bak bunglon di posisi leceh itu namun sesungguhnya dia “the real player” yang mengurusi hampir semua urusan di daerah ini.
Meski masih berusia muda namun “dewi fortuna” mengelilinginya. Maka semua urusan mulai dari bagi bagi proyek, fee proyek, mutasi, angkat mengangkat pejabat , jatuh menjatuhkan pejabat harus melaluinya. Dia dinamai LBP sebagai sebuah gelar berisi pesan peringatan “jangan terlalu rakus”. Mungkin untuk daerah kecil penyamarannya sempurna dan susah terdeteksi namun bagi KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi) model begini hanya “primitive ” yang sudah banyak berpraktek di negeri ini.
LBP yang disebut sebagai sentral mengurusi hampir semua kepentingan tentu tidak hebat hebat banget. Jam terbangnya yang masih rendah tentu belum selicin mereka yang di Jakarta sana. Maka satu persatu perannya dalam permainan haram itu mulai terendus.
Sepandai pandai tupai melompat suatu saat akan jatuh juga . Begitu kata orang bijak . Meski jadi agen popular dikalangan yang elit , aroma sebagai pembagi proyek dan penerima fee proyek semakin menusuk hidung. Cerita pembangunan dan demi rakyat yang digaung gaungkan tuannya hanya kamuflase. Fakta yang terjadi gaya korupsi primitif itu terus terjadi.
Menempatkan diri dan mau ditempatkan pada posisi agen pembagi sangat beresiko. Pada sistim kelistrikan PLN alat ini disebut “circuit breaker”. Alat yang dapat digerakkan membagi dan mendtribusi arus. Alat ini juga dapat memutus arus. Namun resiko alat begini paling sering terbakar dan hangus tidak terpakai lagi ketika beban terlalu besar.
Adian Napitupulu dalam satu podcast pernah berkata pada Andi Azwan. “ Anda Pendukung Prabowo? Anda Pendukung Jokowi?. Anda mengerti Prabowo? Anda Mengerti Jokowi? Maka berlakulah tiori orang yang mengabdikan dirinya pada dua tuan akan lebih berpotensi mengadu domba . Nah agen yang satu ini posisinya persis mirip dengan termul (ternak Mulyono). Punya dua tuan dan pandai bermuka dua .
RA Kartini dalam sebuah buku menyebut “habis gelap terbitlah terang”. Nah di daerah ini muncul fenomena “habis si jugul terbitlah si brutal”. Periode lalu jugul sebagai tokoh sentral pembagi proyek dan penerima fee proyek nah periode ini muncul si brutal. Prakteknya tidak jauh beda. Cuma yang ini mengabdikan diri pada dua tuan.
Bedanya lagi kalau periode lalu jugul tidak mengurusi mutasi Nah yang sekarang semua diurusi. Analoginya pada sistim pengairan ada jaringan primer , sekunder dan tertier. Nah agen yang satu inilah yang berperan sebagai agen tertier. Tidak sampai air itu ke sawah jika tidak melaluinya. Kepercayaan dan kekuasaan yang “kelewat besar “itu agaknya tidak lama lagi akan terbongkar. “aroma dari bangkai membusuk itu mulai menyebar”. Satire (Chief Of Editor)

+ There are no comments
Add yours