Yang Miring

Warga +62

ilustrasi

Mungkin benar kata Ahmad Albar Dunia ini panggung sandiwara. Semua orang dapat satu peranan. Maka peranan warga +62 semua ada . Apa adanya kalau masih junior dan ada apanya kalau sudah senior. Sungguh betapa indah menjadi warga +62 tidak terlalu diperhatikan. Berbohong, munafik hingga melakukan penzoliman juga merasa  kurang diperhitungkan . Jadi selintas terlihat kebal hukum.

Di warga +62 semua ada mulai dari selera rendah, suka suka, nyeleneh, mengarang cerita, sok melawan, sok benar hingga merasa keren. Merasa se level, bergaya meski tak matching dan merasa paling pintar , paling berjasa dan winner. Persis seperti ABG yang baru dipinjamin sepeda motor lantas menggas gas dengan knalpot bolong agar menjadi perhatian saat melintas. Padahal kalau diajak balap takut juga.

Suatu ketika seorang wartawan pemula bicara kepadaku kalau bosnya alumnus ITB.  Dia berpromosi layaknya iklan kecap yang selalu nomor 1. Semakin dia cerita semakin yakin aku ceritanya nanti yang membongkar kebohongannya. Lantas tak lama dia berkata kalau bosnya sarjana hukum. Dalam hatiku langsung berkata “ Cop lakka lakka” kok ITB ada Sarjana Hukumnya? Ini luar biasa. Namun hatiku masih membela siapa tau baru baru ini dibuka fakultas hukum di ITB dan alumni pertamanya  bos kawan ini.

Hingga kini asal kulihat wajah kawan tuh serasa pengen minum antimo . Pengen rasanya kutunjukkan padanya siapa aku sebenarnya. Namun dalam situasi darurat memang orang normal harus mengalah. Disisi lain juga aku harus mengakui bahwa aku juga warga +62. yang sudah veteran dari kisah kisah ngibul amatiran demikian. Setelah jam terbangku tinggi baru kusadari gaya demikian sudah jadul bin lapuk.

Sebagai warga +62 yang sudah “ Marikkat ikat” selama 23 tahun di lapangan  aku kenal persis semua pejabat di Dairi. Mulai dari jenis bunglon, cap kaki dua, cap kaki tiga , pembelot, dan  panglima talam. Seakan malaikat  kalau ada maunya dan menjadi setan ketika tiba ditujuan. Ingin rasanya kupublish foto foto kejahatan mereka masa lalu. Ingin rasanya kusebarkan foto foto mereka saat menjadi kaki tiga dan kaki dua saat masa perang dulu.

Kembali sebagai warga +62 ingin rasanya kubukakan  topeng mereka. Tunjukkan barang bukti mereka. Pamerkan masa lalu mereka yang cap  kaki dua, nakal dan korup. Namun apa boleh buat tai kambing bulat bulat. Terpaksa kuurungkan karena mereka juga piawai dan cepat belajar cara membersihkan telor dan mengangkatnya.  Mencari alasan sekaligus membuat senang bosnya. Bagi bos  yang baru mengenal kulit mereka biasanya akan larut tanpa klarifikasi hingga masuk dalam jebakan Betmen mereka .

Diwarga +62 sesungguhnya susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah adalah hal biasa.  Semua halal untuk mencapai tujuan .Maka mengijak teman, sikut, tendang, gergaji ,karang cerita hingga bohong dan munafik dianggap lumrah untuk mencapai tujuan.

Jadi sebenanya warga +62 itu bukan hanya rakyat jelata. Namun sebenarnya  rata rata semua  manusia adalah warga +62 dari segi  mental, kelakuan watak dan sifat. Sungguh yang membedakan hanya propesi, jabatan dan kelas. Kalau mentalitas mudah mudahan sama semua +62. (Penulis : Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar