Yang Miring

Urakan VS Kurang Ajar

ilustrasi

Seorang teman saya pernah bercerita terkadang dalam hidup kita dihadapkan dalam pilihan sama sama buruk. Urakan atau kurang ajar sama sama sifat jelek. Namun situasi kadang memaksa harus memilih salah satunya. Dan lebih parahnya lagi meski keduanya sifat buruk memilihnya saja bisa salah. 

Urakan menjadi satu sikap jelek yang jika diarahkan untuk suatu yang tepat justru menjadi sebuah kebaikan. Bahkan bisa menjadi sejarah meski bukan jadi panutan. Pernah lihat ABG mengendarai sepeda motor kencang dengan knalpot blong?  Bukan hanya membuat emosi namun gula darah juga meningkat menyaksikan gayanya bak pembalap padahal hanya sepeda motor pinjaman. Ini namanya urakan.

Urakan masih dapat diarahkan untuk sebuah perubahan. Bayangkan jika ada kasus emergency lantas pembalap ini yang mengantarkan ke Rumah Sakit. Tentu akan cepat  tiba untuk ditangani medis. Urakan menjadi salah ketika dilakoni untuk sekedar gagah gagahan. Urakan menjadi mantul ketika dilakoni untuk sesuatu kemanusiaan.

Bukan itu saja urakan biasanya orang pintar yang belum terarah. Jadi orang urakan tidak boleh dari kalangan IQ rendah bin tolol. Namun kalau orang  kurang ajar sesungguhnya sudah putus harapan. Sifat kurang ajar lebih kepada bawaan lahir dan kesalahan didikan mental.  Minimal sifat warisan dari orang tua.

Jika dulu kambing diikat oleh tali sedang manusia diikat oleh kata katanya. Kini kambing masih diikat tali tetapi banyak manusia sudah tidak diikat kata katanya lagi. Ini namanya kurang ajar. Namun demikian tidak lantas  bisa kita buang . Karena terkadang dalam kehidupan ini sesuatu yang sudah tidak berarti harus kita pertahankan karena masih berguna.  Berapa banyak keluarga yang sudah tidak mencintai lagi namun harus dipertahankan? Jawabnya karena masih berguna demi anak dan harga diri.

Demikian halnya orang yang bermental kurang ajar kadang harus dipertahankan karena mungkin masih berguna. Dipertahankan dan dinilai berguna karena mungkin terlalu banyak rahasia pribadi diketahui. Dipertahankan karena mungkin ada kisah indah dan sejarah jebakan pernah dilalui berdua.

Jadi sekurang ajar apapun tindakannya kadang harus dipertahankan . Kalau dilakukan tindakan tegas maka menjadi musibah bagi berdua.

Meski demikian bukan berarti orang kurang ajar harus dimaklumi hingga dibiarkan . Karena berada diluar mereka berdua sesungguhnya penilaian masyarakat terus berlangsung. Suka tidak suka faktanya  pergaulan dan persahabatanlah yang mempengaruhi sifat dan tindakan. Maka orang  bijak berkata berteman dengan kambing maka minimal bau kambing.

Berteman dengan manusia kurang ajar tentunya sangat beresiko.  Betapa tidak fakta membuktikan kesalahan dan keburukan yang diulang ulang akhirnya menjadi sebuah kebenaran.  Inilah jebakan “betmen” yang kerap di dengung dengungkan itu.

Sebaliknya menilai orang baik juga harus hati hati. Jokowi pernah mengirim dokter ke Ibu Ani Yudhoyono lantas disebut orang baik. Tidak bisa langsung nilai demikian karena itu amanah undang undang. Tidak juga berarti seorang istri yang merangkul suaminya sata pulang kerja lantas disebut orang baik.  Karena itu memang kewajiban seorang istri. (Penulis : Hendrik)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar