Hukum

Suami Istri Bupati & Ketua DPRD Kutim Ditahan KPK, Begini Kejahatannya

Bupati dan Ketua DPRD Kutim yang juga suami istri

Jakarta- Dairi Pwers : KPK menetapkan Bupati Kutai Timur Ismunandar (ISM) dan istrinya, Encek UR Firgasih, sebagai tersangka dugaan suap pengadaan barang dan jasa. Total ada tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango menuturkan OTT terhadap Ismunandar dan istrinya itu bermula dari informasi masyarakat perihal akan adanya dugaan tindak pidana korupsi. Lalu pada Kamis (2/7), tim KPK membagi dua tim untuk bergerak di kawasan Jakarta dan Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Bahwa sekitar pukul 12.00 WIB, EU (Istri Bupati Kutim), Musyaffa (MUS, Kepala Bapenda), dan Dedy Febriansara (DF, Staf Bapenda) datang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan sosialisasi pencalonan ISM sebagai calon Bupati Kutai Timur periode 2021-2024),” ujar Nawawi di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (3/7).

Selanjutnya, sekitar pukul 16.30 WIB, Ismunandar dan Arif Wibisono selaku ajudan Ismunandar menyusul ke Jakarta. Lalu, pada pukul 18.45 WIB, kata Nawawi, tim KPK mendapat informasi adanya penggunaan uang yang diduga dikumpulkan dari para rekanan yang mengerjakan proyek di Pemkab Kutai Timur.

“Selanjutnya tim KPK mengamankan Ismunandar, Arif, dan Musyaffa di restoran fX Senayan, Jakarta,” ujar Nawawi.

Selain di Jakarta, Nawawi mengatakan, tim KPK yang berada di Sangatta mengamankan pihak lain. Dari hasil OTT itu ditemukan uang tunai senilai Rp 170 juta, beberapa buku tabungan dengan total saldo Rp 4,8 miliar, serta sertifikat deposito sebesar Rp 1,2 miliar.

KPK pun telah menetapkan tujuh orang tersangka dalam kasus ini. Mereka ialah:

– Tersangka penerima suap

1. Bupati Kutai Timur, Ismunandar

2. Ketua DPRD Kutai Timur, Encek Ur Firgasih

3. Kepala BPKAD Kutai Timur, Suriansyah

4. Kepala Bapenda Kutai Timur, Musyaffa

5.  Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutai Timur, Aswandini

– Tersangka pemberi suap

6. Kontraktor, Aditya Maharani

7.  Rekanan, Deky Aryanto

Siapa Aditya Maharani?

Aditya Maharahi atau akrab dipanggil Mbak Dita, salah satu tersangka pemberi suap untuk Bupati Kutim Ismunandar dan istrinya, Encek UR Firgasih yang menjabat Ketua DPRD Kutim, termasuk THR Rp 100 Juta.

Ada dua kontraktor yang menjadi tersangka pemberi suap untuk Bupati Kutai Timur, Ismunandar dan istrinya, Encek UR Firgasih, Ketua DPRD Kutim dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Kutim.

Di kalangan pebisnis dan kontraktor di Dinas Pekerjaan Umum, Kutai Timur nama Mbak Dita cukup terkenal. Banyak proyek besar yang ditangani oleh ibu dua anak ini. 

Informasi yang dihimpun banyak kontraktor yang tidak mau ikut lelang kalau Mbak Dita ikut juga dalam lelang tersebut. Sebagai kontraktor, Mbak Dita cuma wajib menyetor fee sebesar 10 persen, dan tidak perlu bersusah payah mengikuti jalur lelang yang adil dengan berkompetisi sesuai dengan kualitas pengalaman kerja perusahaannya, untuk mendapatkan sebuah proyek.

Beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang dikerjakan Dita di antaranya:

– pembangunan embung Desa Maloy Kecamatan Sangkulirang sebesar Rp 8,3 miliar yang dikerjakan oleh CV Permata Group MHN,

– pembangunan rumah tahanan Polres Kutai Timur, sebesar Rp 1,7 miliar oleh CV Bebika Borneo,

– peningkatan Jalan Poros Rantau Pulung sebesar Rp 9,6 miliar oleh CV Bulanda,

– pembangunan kantor Polsek Kecamatan Teluk Pandan sebesar Rp 1,8 miliar oleh CV Bulanda,

– optimalisasi pipa air bersih PT GAM senilai Rp 5,1 miliar oleh CV Cahaya Bintang serta pengadaan dan pemasangan LPJU Jalan AP Pranoto Kota Sangatta, senilai Rp 1,9 miliar oleh PT Pesona Prima Gemilang.

Meski demikian, di kalangan teman-teman kongkownya Dita dikenal sebagai sosok baik, humoris dan royal.

Penampilannya juga sederhana saja. Tidak seperti pengusaha besar, yang suka shopping dan jalan-jalan ke luar negeri.

“Orangnya baik, royal sekali sama teman-teman. Nggak menyangka sama sekali kita. Tapi memang dia orang bisnis sih.

Kadang sibuk juga. Tapi nggak sombong dengan kita meski sudah sukses,” ungkap MIA, salah satu orang yang mengenal Dita.

 Senada, FA juga mengaku kenal Mbak Dita sudah lama.

Dulu mereka kerap jalan bareng dengan beberapa teman perempuan lainnya.

“Dulu sering kumpul. Karena saya berteman dengan adik suaminya. Baik sekali orangnya. Ulet kalau usaha,” ujar FA.

Namun, baik MIA maupun FA tidak mengetahui tempat tinggal Dita di Sangatta. Karena merupakan perantau juga di Sangatta.

Ada THR Rp 100 Juta

“Pada tanggal 11 Juni 2020, diduga terjadi penerimaan hadiah atau janji yang diberikan dari AM selaku rekanan Dinas PU Kutai Timur sebesar Rp 550 juta dan dari DA selaku rekanan Dinas Pendidikan sebesar Rp 2,1 miliar kepada ISM,” kata Nawawi

Namun uang tersebut tak langsung diterima Ismunandar dan Encek UR Firgasih, melainkan lewat pengantara yang disebut-sebut tangan kanan Bupati Kutai Timur.

Nawawi mengatakan, Ismunandar bersama Ketua DPRD Kutai Timur, Encek UR Firgasih, menerima uang tersebut melalui Kepala BPKAD Kutai Timur Suriansyah dan Musyaffa selaku Kepala Bapenda Kutai Timur.

Esok harinya, Musyaffa menyetorkan uang tersebut ke beberapa rekening, yakni rekening Bank Syariah Mandiri sebesar Rp 400 juta, Bank Mandiri sebesar Rp 900 juta, dan Bank Mega sebesar Rp 800 juta.

Selanjutnya, melalui rekening milik Musyaffa, uang tersebut digunakan untuk membayar keperluan Ismunandar antara lain pembayaran mobil Elf kepada Isuzu Samarinda senilai Rp 510 juta pada 23-30 Juni 2020.

“Pada tanggal 1 Juli 2020 untuk tiket pesawat ke Jakarta sebesar Rp 33 juta.

Pada tanggal 2 Juli 2020 untuk pembayaran hotel di Jakarta,” kata Nawawi.

Sebelumnya, kata Nawawi, Aditya juga diduga memberikan Tunjangan Hari Raya ( THR ) kepada Ismunandar, Musyaffa, Suriansyah, dan Kepala Dinas PU Kutai Timur Aswandini masing-masing sebesar Rp 100 juta.

Tak sampai di situ, aliran dana yang diterima Ismunandar rupanya juga akan digunakan untuk kepentingan Pilkada.

Seperti diketahui, Ismunandar mempersiapkan dirinya maju di Pilkada Kutim 2020 yang kemudian diundur.

Aliran dana untuk kepentingan kampanye Pilkada Ismunandari ini langsung tercium KPK.

“Serta transfer ke rekening atas nama Aini sebesar Rp 125 juta untuk kepentingan kampanye ISM,” ujar Nawawi.

KPK juga menduga ada penerimaan sejumlah uang dari rekanan kepada Musyaffa melalui beberapa rekening atas nama Musyaffa terkait dengan pekerjaan yang sudah didapatkan di Pemkab Kutai Timur.

“Saat ini total saldo yang masih tersimpan di rekening-rekening tersebut sekitar Rp 4,8 miliar,” kata Nawawi.

Sementara itu, Encek UR Firgasih diduga menerima Rp 200 juta dari Irwansyah, saudara Deky.

Penerimaan itu diduga terkait lima hal yakni, Ismunandar selaku Bupati yang menjamin anggaran dari rekanan yang ditunjuk.

Kemudian, Encek UR Firgasih mengintervensi penunjukan pemenang proyek di Pemkab Kutai Timur. (Hen)