Hukum

Stop “Mafia LKS” di Dairi

Ketua WAMADA Togar Togatorop dan Ketua LBH Sekolah Hulman Sinaga

Sidikalang- Dairi Pers: Dilansirnya pemberitaan sekaitan siswa SMPN 3 Sidikalang membeli LKS dari salah satu toko di Sidikalang telah menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Meski sudah pemerintahan baru di Dairi yang dinakhodai Eddy- Jimmy namun indikasi “ mafia LKS” masih juga terus berlangsung di Dairi. Mungkin karena soal Buku LKS ( Lembar Kerja Siswa) secara spesifik tidak diatur dalam UU No. 3 Tahun 2017 tentang sistem perbukuan diduga membuat salah satu toko buku di Sidikalang memonopoli penjualan dan peredaran LKS. Indikasi “ Mafia LKS” juga tercium yang diduga melibatkan oknum kepala sekolah dan salah satu toko buku di Sidikalang.

Hasil penelusuran Dairi Pers menyebutkan pihak sekolah mewajibkan siswa memiliki LKS mata pelajaran. Meski tidak mengarahkan ke salah satu toko buku. Namun anehnya informasi dari mulut ke mulut akan toko bukunya justru saat tiba ada nama sekolah,  daftar nama siswa dan kelasnya di toko buku yang bersangkutan.

Pihak toko buku langsung membuka asal sekolahnya dan daftar nama siswa yang akan membeli LKS. Ironis sekali dugaan “ permainan” antara kepala sekolah dan pihak toko buku. Masih hasil penelusuran Dairi Pers menyebutkan mengapa pihak sekolah secara tersirat mengikuti keinginan pihak toko buku karena disebut sebut pemiliknya orang kuat di Dairi. Namun karena jabatan sangat berpengaruh  maka toko dibuat atas nama orang lain sebagai kamuflase.

Praktek “ Mafia LKS” tersebut juga diperkirakan sudah berlangsung puluhan tahun. Sebelum keluarnya UU No. 3 Tahun 2017 bahkan toko buku ini langsung menjual buku materi ke siswa. Bentuk dan caranyanya sama yakni oleh guru siswa disuruh membeli buku materi ke salah satu toko buku. Di toko buku tersebut asal sekolah ,  nama dan kelas siswa sudah tercantum. Maka pihak toko buku langsung mengambilkan buku yang sudah dipisah pisahkan per siswa dan per kelas. Siswaamembayar dengan harga fantastis ratusan ribu rupiah.

Bukan hanya itu toko buku ini juga sempat “kelewatan” juga menjual baju sekolah dan baju olah raga. Metode penjualan juga sama diduga toko ini menekan kepala sekolah untuk mengarahlan siswanya berbelanja ke tokonya.

Ketua LBH Sekolah Hulman Sinaga minggu (19/1) mengingatkan di pemerintahan Dairi yang baru Eddy- Jimmy harusnya hal demikian tidak bisa lagi terjadi. Pemerintahan “perubahan” harus bisa membuat kepala sekolah dan orang tua siswa nyaman . jangan membebani orang tua siswa lagi dengan mengarahkan ke salah satu toko buku di Sidikalang. “ Silahkan guru memerintahkan siswa harus memiliki buku LKS. Guru hanya menyampaikan nama penerbitnya, mata pelajaran LKSnya. Kalau sampai menunjuk salah satu toko buku itu sudah melanggar UU monopoli. Harus diakui di Medan toko buku banyak dan ada diskon bagi yang membeli LKS maupun buku. Jadi orang tua berhak mendapatkan diskon . Dan guru berhak menayakan LKS bukan menanyakan beli dari toko buku mana” tegas Hulman.

Sementara itu ketua WAMADA (Wajah Masyarakat Dairi) Togar Togatorop menyebutkan Undang-Undang Sistem Perbukuan (UU Sisbuk) Nomor 3 Tahun 2017. Bila sekolah menyulitkan siswa untuk memiliki buku pelajaran tertentu maka sekolah telah melanggar aturan itu. Sekolah yang bersangkutan  melanggar UU Sisbuk, Permendikbud, serta juknis BOS.

Dikatakan Kemendikbud telah menyediakan buku K13 untuk kelas I sampai dengan kelas XII . Ia menjelaskan buku tersebut diberikan secara gratis kepada siswa. Adapun pengadaannya melalui dana BOS di masing-masing sekolah.

“Pembelian buku melalui dana BOS berlaku untuk sekolah negeri maupun swasta yang menerima dana BOS. Petunjuk teknis BOS menyebutkan bahwa pembelian buku diutamakan untuk membeli buku teks pelajaran yang diterbitkan oleh Kemendikbud.

Dikatakan Togar Togatorop Kemendikbud bakal menjatuhkan sanksi bila sekolah terbukti melanggar aturan. “Jika terbukti melanggar, berdasarkan Permendikbud Nomor 8 tahun 2016 (tentang Buku yang Digunakan oleh Satuan Pendidikan), bisa ada penurunan akreditasi, penangguhan bantuan pendidikan, sampai rekomendasi terberat, jelasnya. (Hen)