Hukum

Sidang Pembunuhan Hakim PN Medan Bak Sinetron, Istri Akui Beberapa Kali Hubungan Intim Dengan Eksekutor (Bag. 2)

TSK Zuraida Hanum

Medan- Dairi Pers : masih dalam sidang lanjutan pembunuhan hakim Jamaludin .Terekam CCTV Jefri Masuk Kamar Zuraida

Selain itu, rekaman CCTV di kediaman hakim Jamaluddin juga menguak fakta tentang hubungan Zuraida dan Jefri. Terekam di CCTV, beberapa kali Jefri memasuki kamar Zuraida Hanum saat hakim Jamaluddin tidak ada di rumah. Hal tersebut diungkap Hakim Erintuah Damanik, saat dirinya mencerca M Reza Fahlevi (29) yang dijadikan saksi untuk terdakwa Jefri.

Awalnya majelis menanyakan kepada Reza Fahlevi kronologi skenario pembuangan mayat korban. Reza mengungkapkan, awalnya jasad Hakim Jamaluddin tidak ingin dibuang.

Karena dalam skenario awal hakim Jamaluddin dibuat seolah-olah meninggal karena serangan jantung. Namun karena ada luka lebam di hidungnya maka dibuat skenario berbeda.

“Kami, tadinya mau buang ke daerah Berastagi, tapi karena macet kami buang ke Kutalimbaru,” katanya. Kemudian hakim bertanya lagi, bagaimana para terdakwa membawa korban dari kamar ke mobil? Reza menjawab dengan cara menggotong.

“Kalian hapus itu CCTV-nya, padahal walaupun kalian hapus, itu bisa diambil lagi oleh pihak Reskrim Polri. Makanya dari itu saya tahu si Jefri masuk ke kamar Jamal itu, untuk apa? Itu merekalah yang tau. Jamal keluar, dia (Jefri) yang masuk,” kata hakim.

JPU kemudian mempertanyakan, apakah itu menjadi alasan untuk membunuh? Namun terdakwa Jefri menampiknya. Jefry mengaku hanya iba melihat Zuraida tertekan oleh suaminya. Jefri juga mengaku sangat sayang dengan Zuraida Hanum.

Ia juga merasa tidak tega melihat Zuraida Hanum yang kerap curhat karena merasa tertekan oleh suaminya. “Saya sayang sama dia (Zuraida Hanum) Yang Mulia,” katanya. Selain faktor sayang dan tak tega, Jefri juga mengaku dijanjikan sesuatu oleh Zuraida Hanum.

“Yang pertama kasihan, kedua karena saya sayang, ketiga saya dijanjikan,” katanya. Hakim pun kemudian membacakan isi BAP (berkas acara pemeriksaan) Jefri tentang janji-janji yang diberikan Zuraida Hanum, antara lain satu unit rumah, mendirikan kantor pengacara, dan umrah.

“Di dalam BAP, kamu dijanjikan akan dibelikan rumah, mobil Pajero Sport putih, dan membuka kantor pengacara, benarkah?” tanya Hakim dan dibenarkan oleh Jefri.

Kemudian Jefri pun menceritakan beberapa fakta terkait kejadian pembunuhan tersebut. Setelah batalnya rencana pembunuhan seolah-olah serangan jantung, mereka sempat cekcok untuk menentukan apakah membuang mayat hakim Jamaluddin atau tidak.

“Jadi setelah ditemukan memar di hidung dan perut, Zuraida Hanum meminta kami membuang mayat itu,” katanya Jefri kepada majelis hakim. “Saya menolak membuang, karena itu sudah bukan rencana awal lagi, namun Hanum tetap memaksa kami untuk membuang mayat korban,” imbuhnya.

Zuraida Hanum meminta kepada Jefri dan Reza Fahlevi (eksekutor lainnya) untuk membuang mayat tersebut ke Berastagi atau Belawan. “Namun kami memilih, untuk membuangnya ke Berastagi. Karena macet kami balik, takut ada razia,” katanya.

Dipotong oleh Hakim Imanuel Tarigan, setelah kejadian ini, apakah uang yang dijanjikan oleh Zuraida Hanum sudah diambil, dia menjawab belum.

“Itulah kau kan, kena PHP kau, tadi di keterangannya Zuraida mengatakan kalau mobil dan lain-lain itu bisa jadi dikasih bisa jadi tidak,” cetus Imanuel. Hakim juga mempertanyakan apakah terdakwa merasa dimanfaatkan? “Tidak Yang Mulia,” ucap Jefri.

“Kau sarjana hukum, caleg, anggota OKP, tapi kau kenapa mau disuruh membunuh,” kata Hakim. Hakim pun membandingkan Jefri Pratama dengan Liber Junianto Hutasoit, mantan sopir Zuraida Hanum yang sebelumnya menjadi saksi.

“Hutasoit, orang Tanjung Morawa, sekolah gak jelas, tapi dia gak mau membunuh, diambilnya aja uangnya. Ini kau, udah uang gak dikasih, membunuh lagi,” cetus Imanuel.

Hakim juga kembali mempertanyakan Jefri apakah masih ingin melanjutkan rencana pernikahan dengan Zuraida Hanum setelah membunuh hakim Jamaluddin. “Iya Yang Mulia, rencananya seperti itu,” jawab Jefri. (Hen)