Yang Miring

Selingkuh

ilustrasi

Bagi pelakor dan pebinor arti selingkuh itu “Selingan Indah Keluarga Utuh”. Anda tahu dimana letak kenikmatan dari selingkuh? Nikmatnya karena curi curi. Itu membuktikan sesungguhnya manusia secara naluri menyukai sifat jelek. Bukan hanya soal “tali air” selingkuh berkembang juga ke politik, persahabatan hingga keuangan. Kini orang yang berjanji namun “menikung” janjinya juga disebut selingkuh. Memilih “menikung” janji Itu karena ada kenikmatan didalamnya. Paling tidak motivasinya sama dengan pelakor dan pebinor yakni memerdekakan nafsu penasaran enaknya melanggar komitmen.

Selingkuh merupakan penyakit mental yang resikonya juga tidak kecil. Membebani fikiran sudah pasti karena konsentrasi terkotak kotak. Namun selingkuh juga bisa mendatangkan penyakit gatal gatal hingga yang mematikan Aids. Maka demikian juga selingkuh dalam politik dan persahabatan. Bukan hanya menambah pikiran. Kelak akan melahirkan masalah karena merasa dikhianati dan dan ditinggalkan.  Bukan hanya berpotensi menimbulkan masalah hukum. Bahkan yang mematikan narasumber ke  KPK juga mungkin terjadi.

Adalah benar istilah nakal “rumput tetangga jauh lebih hijau”. Bentuknya hijau menantang dan berminyak . Meliuk liuk gemulai saat diterpa angin . Nafsu akan bergelora memandangnya .Wajar serba wah karena terbuat dari bahan sintetis. Indah dipandang namun saat ditelan tidak berasa dan perut akan mules mengolahnya.

Dalam dunia politik juga demikian. Mengikuti wacana partai pengusung Prabowo bakal bergabung dengan pemerintahan Jokowi bagiku serasa pengen minum antimo. Sebagai pengagum Jokowi saya tidak setuju dengan rencana itu karena sesungguhnya oposisi sangat perlu dalam sebuah kekuasaan untuk menjadikannya tidak tirani. Rekonsiliasi memang perlu namun tidak harus bagi bagi kursi kekuasaan. Jadi rekonsiliasi murni karena kepentingan bangsa dan rakyat.  Bukan karena kepentingan jatah satu kursi menteri.

Dalam peradaban manusia harus diakui peran oposisi sangat perlu. Dibutuhkan kritikus dan pentingnya sekelompok orang yang berfungsi sebagai alat kontrol. Lihat cerita Robinhood, Sipitung dari betawi, Singamangaraja dari Tanah batak. Mereka oposisi dijamannya yang akhirnya sejarah mencatat mereka pahlawan.

Coba bayangkan jika saja Robinhood mau selingkuh dengan penguasa kala itu. Tentu penguasa akan sangat senang. Robinhoodnya kaya raya . Jika demikian jalan ceritanya kira kira kalau difilmkan adakah orang akan menonton?.

Saya ingin mengatakan tetaplah dalam identitas awal jika ingin nama dan kisahmu harum dicatat sejarah. Memang menjadi oposisi tidak mudah. Jauh lebih mudah selingkuh dengan menjadi penjilat. Menjilat hanya membutuhkan kemunafikan. Menyenangkan penguasa, membohongi kebenaran dan asal bapak senang. Jadi tidak butuh otak dan pemikiran. Hanya butuh “yes sir” mirip kalkun yang manggut manggut secara beruntun.

Namun demikian menjadi “selingkuker” juga bukan berarti mulus. Mereka juga harus bersaing dengan selingkuker lain yang juga memainkan ilmu menjilat. Jadi sesama penjilat juga harus terus bersaing untuk mendapatkan hati dan perhatian penguasa. Ukuran lidah dan kepiawaian memainkan lidah tentu menjadi alat ukur untuk kesuksesan. (Penulis : Hendrik)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar