Opini

RSUD Dairi Baru Berubah Jika Direkturnya “ Bertangan Besi”

RSUD Dairi terus menjadi sorotan sejak 5 tahun terakhir. Reputasi “wajah dunia kesehatan “ Dairi itu terus merosot sejak tergantinya dr Reinfil Capah 10 tahun silam . Sepertinya sudah begitu dalam kerusakan yang terjadi hinggakan  delapan bulan pemerintahan Eddy Jimmy  sepertinya sangat sulit mengembalikan citra yang pernah disandangnya . Mentalitas, backing membacking, rekruitment yang asal ada dan dugaan  “kemanjaan” yang pernah diistimewakan sebelumnya membuat  personil unit ini lupa khakikat kewajiban. Eddy Jimmy juga harus mengaku jujur kewalahan akan Unit yang satu ini.

Penelusuran penulis dalam 8 bulan pemerintahan Eddy Jimmy, Unit layanan yang satu ini terus “digempur” untuk perbaikan. Mulai dari sidak, pertemuan , rapat hingga “nada keras” Bupati Dairi DR Eddy Berutu sepertinya belum mampu secara cepat mengembalikan nama harum RSUD Dairi yang pernah menjadi favorit dijaman Reinfil Capah.

Hasil penelurusan penulis  menyimpulkan apa yang terjadi hari ini di RSUD Dairi merupakan akumulasi kekurangberesan sepuluh tahun silam. Kekurang beresan mulai dari rekruitment tenaga honorer. Metode seleksi calon direktur yang dipertanyakan hingga dugaan nepotisme dalam pengisian jabatan hingga dugaan unsur “ X” dalam pengisian tenaga honorer.

Jika presiden Jokowi menyebut revolusi mental hemat penulis maka instansi pertama yang harus  dicecar menjalankan revolusi mental di Dairi adalah personil RSUD Dairi. Penulis mendeteksi “kemanjaan” dulu justru berpengaruh negatif  terhadap mentalitas keikhlasan dalam khakekat pelayanan publik bidang kesehatan hingga sekarang.

Masih hasil penelusuran  Penulis menemukan contoh  seorang tenaga honorer di RSUD Dairi justru lebih ditakuti daripada seorang Direktur. Meski berstatus honorer namun kekuasaannya mengatur alur uang sangat dominan. Maka oknum ini tidak segan segan merokok diruangannya tanpa ada yang berani menegur.

Oknum ini satu dari puluhan oknum lain yang bergaya sama. Saat ditelusuri ternyata oknum ini dibekingi seorang oknum anggota DPRD Dairi. Demikian honorer yang lain nyaris mirip hingga berdampak sulit bagi siapapun Direktur untuk bertindak tegas ketika oknum dari lembaga lain ikut mengintervensi personil RSUD Dairi.

Bukan hanya honorer jika dilidik satu persatu personil ASN yang ada di dalamnya maka akan jelas terlihat “benang merah” dugaan indikasi nepotisme dan bukan propesionalisme. Unit pelayanan publik semisal rumah sakit selama tidak menganut propesionalisme dalam merekrut personil maka hasilnya seperti sekarang “buah bibir dan bahan sumpah serapah” keluarga pasien yang kecewa.

Bukan hanya itu catatan RSUD Dairi tidak bisa dibohongi terbukti dua  stafnya telah dipecat dan masuk penjara dalam dugaan korupsi. Itu masih yang berhubungan dengan Alkes. Jika saja dilakukan pemeriksaan oleh lembaga tipikor penulis yakin bakal seperti api dalam sekam. Perlahan namun semua akan hangus terbakar.

Penulis membaca dan mengikuti upaya dan kerja keras Bupati Dairi Eddy Berutu untuk memperbaiki unit pelayanan kesehatan yang satu ini. Namun penulis melihat apa yang dilakukan Eddy- Jimmy selama delapan bulan hanya berpengaruh kecil. Cara tercepat mumpung masih awal tahun dan kemungkinan akan adanya mutasi  tidak salahnya  melakukan perombakan besar besaran  atas personil di RSUD Dairi.

Staf “nakal”yang sudah berusia lima hingga sepuluh tahun menikmati “kebebasan berkelakuan” selama ini  dipindah ke unit lain sebagai bahan pembelajaran.

Dan paling utama menempatkan Direktur RSUD Dairi dari ASN yang “bertangan besi”. Bertangan besi dimaksud tidak  takut akan ancaman oknum anggota DPRD yang membeckingi ASN maupun honorer nakal. Berani disiplin dan langsung mengambil tindakan tegas kepada ASN dan honorer yang “lebay” . Dan Inspektorat harus berani  jujur dan tidak ikut ikutan memanjakan menutupi borok yang ada.

Bertangan besi juga pada dokter yang bertugas karena pada faktanya sejumlah oknum dokter yang bertugas diunit ini terkadang masih menganggap “warga negara kelas satu” merasa keahliannya sangat diperlukan. Merasa esklusif karena menjadi jawaban satu satunya untuk memeriksa pasien. Maka sebelumnya kita pernah melihat meski sudah pasien RSUD namun tiba tiba pindah ke klinik praktek dokter. Ini bagian dari contoh kecil adanya ketidakberesan atas personil.

Semua itu telah terjadi dan itu dilatar belakangi ada yang salah sepuluh tahun silam saat RSUD ditinggalkan Reinfil Capah. Pemulihan kondisi RSUD Dairi tidak bisa lagi “gaya biasa” namun harus berani menerapkan disiplin semi militer sehingga mental mental yang sudah terlanjur rusak itu takut dan menyadari perubahan kepemimpinan sudah terjadi.

Hemat penulis recovery RSUD Dairi agar tidak lagi menjadi bahan sumpah serapah keluarga pasien harus melakuan perombakan besar terutama stafnya. Hanya mengganti direktur  rumah sakit tidaklah akan cukup untuk memperbaiki dengan cepat mentalitas yang sudah lama lupa.  (Penulis  Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar