Yang Miring

Pesta Kehilangan Makna

Hendrik Situmeang

Sejatinya pesta menjadi sebuah kisah indah, senyum dan menikmati enaknya rendang daging, sayur urap dan harumnya aroma nasi baru dimasak. Harusnya dalam keadaan perut lapar akan terasa sangat gurih. Namun sebuah pesta bisa menjadi cemoohan ketika pengantinnya masih belum menyelesaikan masalah “sinamot”. Pesta akan menjadi bahan tertawaan ketika MC malah amatiran.

Bagi orang batak sesungguhnya aturan berkaitan pesta sangat jelas. Parhobas yang bertugas memotong kerbau dan memasaknya mendapat bagian jeroan. Jeroan yang dicincang terdiri dari usus, perut, sedikit limpa, hati dan jantung. Masakan inilah yang menjadi hak parhobas.

Biasanya masakan ini dihidangkan panas panas dan dimakan bersama sama dan ditakari dengan cangkir oleh pembagi. Jika ada yang mencoba minta tambah lauk maka yang lain juga akan minta nambah.  Kalau nambah kuah biasanya tidak terlalu dipermasalahkan meski dalam hati terlintas “mokkus”.

Jika ada parhobas meminta hati dan jantung itu artinya parhobas kelewatan, rakus dan lupa diri. Nafsu dan tak tahu diri pasti bersarang di hati dan otaknya. Jenis parhobas demikian biasanya jadi bahan tertawaan dan bahan kolokan parhobas yang lain.   Pastinya untuk pesta berikutnya tidak diikutkan lagi karena disamping bikin bising juga merusak kompaknya tim kerja parhobas.

Namanya pesta tentunya bukan hanya parhobas jadi masalah. Ada bahkan yang tidak masuk daftar parhobas juga ikut ikutan berharap ikut dapat jatah makan jeroan. Segala cara dilakukan mulai dari pedekate kepada ketua parhobas, angkat telor , menyogok, hingga ribut teriak teriak  diluar berharap dipanggil dan ditawari makan jeroan parhobas. Jenis begini biasanya dilatari dua hal pertama sudah sangat lapar dan kedua mungkin sudah muka tembok dan saraf malunya sudah putus. Bayangkan sudah tidak merasakan cape malah tempuh cara mudah dengan teriak teriak. Di orang batak disebut “sigurbak ulu” yang sudah hilang harga diri.

Jenis demikian bisa dianalogikan disebuah sekolah hasil ujiannya buruk hingga dinyatakan tidak naik kelas. Tidak terima kelemahannya malah meraung raung buat bising minta ikut naik kelas. Bagaimana mungkin bisa nyaman berada diantara orang orang yang lulus ujian dan naik kelas ?

Sesungguhnya dalam pesta orang batak bagian bagian dari seekor kerbau sudah jelas yang disebut dengan “jabbar”. Maka jika ada orang yang menerima jabbar yang tidak sesuai haknya biasanya akan menjadi pusat bully dan disebut “mokkus”. Jenis demikian selalu disebut sebagai orang yang tidak bisa dipercayai karena serakah.

Jadi teringat masa kecil dulu ketika Tulangku datang dan orangtua memotong ayam untuk menservice tulang. Aroma bumbu dan santan terasa menusuk hidung karena dimasak diatas tungku kayu bakar.

Saat acara makan dimulai aku malah disuruh bermain jauh jauh agar tidak ikut makan ayam kampung gulai. Tidak terima dengan cara halus mengusirku maka ketika acara doa selesai. Kulihat makanan sudah terhidang dengan nasi panas panas aku pura pura berdiri dipintu dan mengoyang goyang daun pintu cari perhatian.

Masih jelas ku ingat betapa tajamnya mata ibu memplototiku memberikan kode agar aku kabur. Malah kugigit daun pintu berharap tulang memanggilku.

Benar saja ketika tulang memanggil dan memintaku duduk disampingnya langsung piring dan gulai ayam kusambar. Kutahu itu kurang etika namun karena perut sudah lapar dan super jarang makan makanan enak maka kutahankan saja cubitan ibu di kakiku.

Kisah itu mengajariku betapa tuntutan perut dan nafsu serakah kerap membuat kita tidak beretika, putusnya urat malu  hingga rusaknya pesta. (Penulis : Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar