Kriminal Peristiwa

Pasien Dibius Tapi Gagal Operasi, Waktunya Bupati Dairi Evaluasi RSUD

Togar Togatorop dan Hulman Sinaga

Sidikalang- Dairi Pers : Hampir sepuluh hari peristiwa yang membuat “bulu roma berdiri’ yang terjadi di RSUD Dairi atas seorang pasien Aria Raja Sianturi (10) yang sudah dibius namun gagal dioperasi karena alat rusak sepertinya berlalu bagai  angin semilir  saja. Padahal peristiwa itu sudah tergolong tragedy kemanusiaan yang beraroma pidana . Tragedy kemanusiaan itu semakin menunjukkan bobroknya pengelolaan manajemen RSUD Dairi.

Ketua LBH Kesehatan Dairi Hulman Sinaga menyebutkan peristiwa itu sudah sangat melukai rasa kemanusian dan jelas beraroma pidana jika diadukan ke pihak berwajib . Bukan itu saja peristiwa itu mempertontonkan kebobrokan manajemen RSUD Dairi.

“ kita sangat menyesalkan peristiwa itu mengingat janji Bupati Dairi Dr Eddy Berutu pertama dilantik akan berkantor dan membenahi RSUD Dairi. Namun demikianlah manajemen yang kini diawaki direktur dr Sugito Panjaitan dan sekretaris Luber Sianturi. Suka tidak suka peristiwa itu justru menyeret nama bupati menjadi buruk dikalangan masyarakat sekalipun sebenarnya secara  tekhnis direktur dan sekretarislah harusnya bertanggung jawab atas ketidak propesionalan itu “ sebut Hulman.

Dikatakan Hulman Sinaga, sejak kampanye Eddy Berutu di proses pilkada silam pembenahan RSUD Dairi menjadi target karena urgent dan menyangkut hajat hidup orang banyak . Keputusan mendatangkan pejabat luar menjadi bukti keinginan kuat dan berniat janji pembenahan RSUD cepat terjadi. Namun demikian tidak sesuai harapan setelah lebih dua tahun institusi ini dibenahi bahkan kini sudah menjadi BLU kasus kasus kemanusian terus muncul , Jelasnya.

Menurut Hulman selama ini banyak mendengar persoalan intern di dalam termasuk adanya “adu mengadu” ke ranah hokum atas personil di dalamnya. “ kita mendengar banyak persoalan intern yang akhirnya ke jalur hokum. Kita tidak berkomentar atas hal itu. Namun untuk tragedy kemanusian seorang anak dibius namun gagal operasi karena alat rusak kita harus angkat bicara. Bupati Dairi harus berani bertindak tegas dan mengevaluasi manajemen yang ada. Jika tidak melakukan itu maka public tidak akan berhenti menyalahkan Bupati” tegasnya

Hal senada juga disampaikan ketua Wajah Masyarakat Dairi (Wamada) Togar Togatorop yang meminta Bupati Dairi sudah waktunya tegas melakukan evaluasi. “ Terjadi kesalahan demikian namun tidak ada pihak yang  terkena sanksi maka public akan menimpakan semua ketidak propesionalan itu ke pundak Bupati ” sebutnya.

Togar juga menyebutkan dari berbagai liputan media yang sering melansir berbagai masalah di RSUD Dairi sebenarnya sudah waktunya Bupati Dairi melakukan evaluasi. “ Banyak persoalan intern yang kita ketahui namun selama ini tidak kita komentari karena berharap ini proses perbaikan. Namun peristiwa seorang anak sudah dibius namun harus berangkat ke Medan karena alat rusak jelas harus kita protes. Bagaimana mungkin seteledor itu? Bagaimana sebenarnya Standart operasional? Dan banyak lagi pertanyaan.  Ini masalah nyawa dan  hidup manusia, tidak boleh main main . Saya yakin Bupati Dairi juga tidak mentolerir kesalahan fatal ini ” tegasnya

Togar menyebutkan membaca salah satu media yang mengangkat kasus tersebut dimana pihak medis menawarkan membantu pihak keluarga pasien membiayai perobatan pasien justru melahirkan persoalan baru. “ public akan bertanya dari mana sumber dana untuk pembiayaan tersebut? Mungkinkah dari kantongnya para medis? Atau jangan jangan melakukan pelanggaran anggaran untuk menutupi pembiayaan kasus anak ini?. Stop hal demikian karena tidak menyelesaikan masalah, yang diharapkan masyarakat propesionalisme dan tanggung jawab manajemen dalam pelayanan kesehatan, sebut Togar.

Ditambahkan Togar dirinya sebagai salah satu Tim Sukses pada pilkada silam tentunya bertanggung jawab meluruskan infromasi yang seakan menyalahkan Bupati Dairi dalam kasus tersebut. “ Yang harus dievaluasi itu Direktur dan sekretaris RSU. Jika Bupati tidak tegas dalam kasus ini maka baru wajar masyarakat menyalahkan pemkab Dairi karena tidak ada sanksi bagi yang melakukan kesalahan ” ujarnya

Kita tidak menafikan akan adanaya perubahan di RSUD Dairi khususnya bidang kebersihan Kita mengakui itu, namun yang  kita kritik persoalan personil yang berkaitan erat dengan nyawa masyarakat, tambahnya.

Mengingat urgent dan berbagai masalah di tubuh RSUD Dairi  yang terus muncul Kedua ketua Lembaga ini mendesak Bupati Dairi untuk bijak mengevaluasi manajemen RSUD Dairi. Mempublikasi langkah tegas yang telah dilakukan  akan kasus ini akan mengembalikan kepercayaan public, pungkas Togar

Sementara itu hasil penelusuran Dairi Pers korban Aria Raja Sianturi (10) adalah warga Parluasan, Sidikalang . Masuk RSUD Dairi Minggu (17/10/2021) dengan keluhan sakit pada bagian perut, selanjutnya difoto dan didiagnosa infeksi usus. Pasien rawat  Inap di ruang Melur.

Pasien disarankan  cek darah Senin (18/10/2021) di salah satu perusahan swasta pengelola pemeriksaan darah. Dari hasil cek darah disarankan untuk melakukan operasi bagian perut dan pasien disuruh puasa hingga pukul 17.00 WIB.

“Dokter yang menangani datang sekira pukul 19.00 WIB. Pasien sudah dibawa masuk ke ruang operasi. Berselang 1 jam, dokter keluar dari ruangan dan menyebutkan alat operasi rusak. Suasana sempat ricuh karena diketahui pasien sudah sempat dibius namun tidak dioperasi.  Dan selanjutnya pasien dilarikan ke salah satu Rumah sakit di Medan.

Sementara itu informasi yang diterima Dairi Pers senin (25/10/2021) Aria Raja Sianturi akhirnya menjalani operasi di Rumah Sakit Glen di Medan dengan biaya Rp. 120 juta. (Hen)