Suara Pembaca

Mahasiswa Dairi dan Kebobrokan Sikap Politiknya

Pilkada Bukan Pemilihan Kadal Daerah
Pilkada Bukan Pemilihan Kadal Daerah

Anjing itu menggongong pada angin yang berbisik, dia seolah ingin berkuasa. Menggonggong hingga dia lemas kemudian menjilat air ludah sang penguasanya. Dalam pikir,  aku sedih melihat anjing yang sudah dilatih dan belajar berburu hanya mampu menggongong dan menjilat, bukankah anjing itu seharusnya sudah mahir berburu, bisa mencari makan sendiri, mampu menjaga rumah dan bisa pula mengigit pencuri meski harus terpukul dan terluka?

Demikianlah puisi ku hari ini,  judulnya anjingku jago menggongong. Mari kita mulai, judul tulisan ini tidak untuk berpuisi. Ini buah pikir saya akan situasi saat ini pada segelintir mahasiswa Dairi (bukan generalisasi).

Saya sebenarnya tidak ingin membahas dan menulis mengenai situasi perpolitikan kampung di kampungku itu. Hanya saja miris melihat sikap politik mahasiswa kampungku, Dairi kami menyebutnya. Jadi, akan kucoba sampaikan pikiranku mengenai keadaan mahasiswa Dairi dan kebobrokan sikap politiknya.

Meninggalkan kampung,  untuk kuliah katanya ke kota-kota di dunia ini. Ada yang ke kota Medan, ada ke kota Jakarta, ada pula sampe ke kota Praha, layaknya berburu. Dikota Medan aku melihat banyak kali anjing berkeliaran, demikian juga mahasiswa. Selow, aku juga mahasiswa kawan-kawan bukan anjing. Enggak usah langsung sentimentil gitu ah.

Kami sering berkeliaran kemana-mana belajar, diskusi, menyuarakan kebenaran dan mengabarkan injil layaknya pendeta muda,  siap menahan haus dan lapar dibangku kuliah yang berlanjut juga dikamar kost. Di jalanan kita bersorak-sorak sampai keringat kita meluncur membahasi baju loak dari Pajak Melati, hingga memburu Kadal, semua kita lakukan dengan berpegang teguh pada idealisme bukan nasi-lisme saat itu.

Sekarang tibalah kita pada zaman untuk menganti Pemimpin Kampung kita. Sesuai undang-undang kita selalu menyebut zaman ini dengan sebutan Pilkada, tapi bukan singkatan dari Pemilihan Kadal Daerah. Zamanpun juga ikut berubah,  Kadal mulai menyeret Anjing. Bukan lagi anjing yang memburu Kadal. Kadal itu hanya mengeluarkan air liur yang membuat candu tentunya juga perut jadi kenyang bahkan sampai kekenyangan sesaat.

Pilkada itu bukan Pemilihan Kadal Daerah

Idealisme terjual menjadi nasi-lisme. Langsung saja dengan mudah anjing itu terseret kemudian ikut bersorak-sorai bagaikan penyembah berhala hingga akhirnya Anjingku beserak terseret-seret karena tergiur menjilat air liur candu dari Kadal itu.

“Idealis juga butuh nasi bung Marx”, kata mulutmu. Iya benar sekali,  tapi dulu kita sudah biasa menahan lapar kawanku. Toh juga kita masih hidup meski lapar, sesekali juga daging kadal panggang, daging ular goreng jadi santapan kita kok. Masih saja kautakut akan lapar? Kawanku, semestinya kita bisa melangkah diatas kaki sendiri.

Sebagai mahasiswa kewajibanmu adalah menyuarakan kebenaran dan memburu Kadal.

Lantas, dimana sinkronisasi pikiranmu dengan judul tulisanmu ini bung Marx? Aku berkata, “sesungguhnya sinkronisasinya ada pada otak dan hatimu”. Otak dan hatimu bebas menentukan pililihanmu, itu hakmu. Sebagai mahasiswa kewajibanmu adalah menyuarakan kebenaran dan memburu Kadal.

Salam hangat kawan-kawanku. Kita Lawan! Hidup Mahasiswa!

Penulis : Marx Sagala

Bio : Seorang mahasiswa Dairi yang dibesarkan petani kopi.

Tentang Penulis

Togar Togatorop

Seorang penulis dengan hobby pemikat burung. Keseharian sebagai pengamat sosial, budaya, dan politik di Dairi, Sumatera Utara. Masih terlihat muda walau sudah berumur, energik. Ketidakadilan harus diberantas, demikian moto hidupku.

10 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

  • Kurang setuju, analisis dangkal dan tanpa argument kuat yg membangun.
    Coba pahami untuk membuat tulisan, saya senang membaca, untuk tulisan anda sepertinya mau menunjukkan anda orang yg idealis tetapi tidak memperhatikan makna tulisan anda.

    • Senang atas komentar anda, tapi tulisan tak melulu harus dengan analisis mendalam disertai teoru yang menguatkan argument. Tulisan ini bukan karya ilmiah atau essay yang memerlukan banyak teori dan estetika penulisan. Artikel ini hanya Satire dan kata-kata tak bermakna sebagai ungkapan hati, setiap orang bisa saja memaknainya berbeda itu tergantung pada perspektifnya dan itu yang saya inginkan, biarkan pembaca memiliki perspektifnya masing-masing akan tulisan tak bermakna ini.
      Terima kasih bung Rinaldi Sinaga. Silahkan muat tulisan anda sebagai kritik akan artikel ini biar saya bisa belajar dari tulisan anda.
      Salam hangat.

      *Marx Sagala

    • Terima kasih buat komentar anda, namun ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.
      Pertama jika bung Rinaldi Sinaga kurang setuju, itu dibagian mana yang kurang setuju? Biar kita sepahamkan.
      Kedua, ini bukanlah Karya ilmiah atau essay yang membutuhkan analisis mendalam dan butuh banyak teori untuk menguatkan argumentnya. Artikel ini hanya Satire dan Kata-kata tak bermakna.
      Ketiga, saya tidak ada menunjukkan bahwa penulis paling idealis.
      Berikutnya, jika memang anda penulis dan kritikus silahkan muat dan publish tulisan anda yang penuh makna itu. Saya akan senang hati membaca artikel kritikan anda.
      Terakhir, saya membuat artikel ini sebagai sindiran buat kawan-kawan saya yang telah berpaling dan terlibat dalam politik praktis hanya karena telah diberi dana kelompoknya. Artikel ini juga sebagai ajakan kepada kawan mahasiswa untuk tetap bersikap independent dan bebas dari intervensi kaum politik yang sedang bertarung. Dan memberikan hak suara pada pilkada sesuai suara hari dan hasil penjajakan track record calon pemimpin daerah.
      Salam hangat bung.

    • Terima kasih buat komentar anda, namun ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.
      Pertama jika bung Rinaldi Sinaga kurang setuju, itu dibagian mana yang kurang setuju? Biar kita sepahamkan.
      Kedua, ini bukanlah Karya ilmiah atau essay yang membutuhkan analisis mendalam dan butuh banyak teori untuk menguatkan argumentnya. Artikel ini hanya Satire dan Kata-kata tak bermakna.
      Ketiga, saya tidak ada menunjukkan bahwa penulis paling idealis.
      Berikutnya, jika memang anda penulis dan kritikus silahkan muat dan publish tulisan anda yang penuh makna itu. Saya akan senang hati membaca artikel kritikan anda.
      Terakhir, saya membuat artikel ini sebagai sindiran buat kawan-kawan saya yang telah berpaling dan terlibat dalam politik praktis hanya karena telah diberi dana kelompoknya. Artikel ini juga sebagai ajakan kepada kawan mahasiswa untuk tetap bersikap independent dan bebas dari intervensi kaum politik yang sedang bertarung. Dan memberikan hak suara pada pilkada sesuai suara hari dan hasil penjajakan track record calon pemimpin daerah.
      Salam hangat bung.

    • Terima kasih buat komentar anda bung Rinaldi, namun ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.
      Pertama jika bung kurang setuju, itu dibagian mana yang kurang setuju? Biar kita sepahamkan.
      Kedua, ini bukanlah Karya Ilmiah atau Essay yang membutuhkan analisis mendalam dan butuh banyak teori untuk menguatkan argumentnya. Artikel ini hanya Satire dan Kata-kata tak bermakna seperti yang anda sebutkan.
      Ketiga, saya tidak ada menunjukkan bahwa penulis paling idealis.
      Berikutnya, jika memang anda penulis dan kritikus silahkan muat dan publish tulisan anda yang penuh makna itu. Saya akan senang hati membaca artikel kritikan anda.
      Terakhir, saya membuat artikel ini sebagai sindiran buat kawan-kawan saya yang telah berpaling dan terlibat dalam politik praktis hanya karena telah diberi dana kelompoknya. Artikel ini juga sebagai ajakan kepada kawan mahasiswa untuk tetap bersikap independent dan bebas dari intervensi kaum politik yang sedang bertarung. Dan memberikan hak suara pada pilkada sesuai suara hati dan hasil penjajakan track record calon pemimpin daerahnya.
      Salam hangat bung.

  • Terima kasih buat komentar anda, namun ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi. Pertama jika bung Rinaldi Sinaga kurang setuju, itu dibagian mana yang kurang setuju. Biar kita sepahamkan. Kedua, ini bukanlah Karya ilmiah atau essay yang membutuhkan analisis mendalam dan butuh banyak teori untuk menguatkan argumentnya. Artikel ini hanya Satire dan Kata-kata tak bermakna.
    Ketiga, saya tidak ada menunjukkan bahwa penulis paling idealis.
    Berikutnya, jika memang anda penulis dan kritikus silahkan muat dan publish tulisan anda yang penuh makna itu. Saya akan senang hati membaca artikel kritikan anda.
    Terakhir, saya membuat artikel ini sebagai sindiran buat kawan-kawan saya yang telah berpaling dan terlibat dalam politik praktis hanya karena telah diberi dana kelompoknya. Artikel ini juga sebagai ajakan kepada kawan mahasiswa untuk tetap bersikap independent dan bebas dari intervensi kaum politik yang sedang bertarung. Dan memberikan hak suara pada pilkada sesuai suara hari dan hasil penjajakan track record calon pemimpin daerah.
    Salam hangat bung.

  • Terima kasih buat komentar anda, namun ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.
    Pertama jika bung Rinaldi Sinaga kurang setuju, itu dibagian mana yang kurang setuju? Biar kita sepahamkan.
    Kedua, ini bukanlah Karya ilmiah atau essay yang membutuhkan analisis mendalam dan butuh banyak teori untuk menguatkan argumentnya. Artikel ini hanya Satire dan Kata-kata tak bermakna.
    Ketiga, saya tidak ada menunjukkan bahwa penulis paling idealis.
    Berikutnya, jika memang anda penulis dan kritikus silahkan muat dan publish tulisan anda yang penuh makna itu. Saya akan senang hati membaca artikel kritikan anda.
    Terakhir, saya membuat artikel ini sebagai sindiran buat kawan-kawan saya yang telah berpaling dan terlibat dalam politik praktis hanya karena telah diberi dana kelompoknya. Artikel ini juga sebagai ajakan kepada kawan mahasiswa untuk tetap bersikap independent dan bebas dari intervensi kaum politik yang sedang bertarung. Dan memberikan hak suara pada pilkada sesuai suara hari dan hasil penjajakan track record calon pemimpin daerah.
    Salam hangat bung.

  • Oke, Oke saya rasa pendapat tidak perlu disepahamkan, pemahaman setiap orang tentu berbeda, tetapi analisis dalam tiap tulisan perlu diperhatikan dan tujuan penulisan perlu dipertimbangkan
    berikut contoh tulisan saya ketika mahasiswa,
    Mungkin bisa saudara bandingkan bagaimana pola pikir kita saat saya mahasiswa dan saat saudara juga jadi mahasiswa
    http://rinaldinaga.blogspot.com/2013/04/tahun-politik-vs-tahun-ekonomi.html

    kalau mau diskusi silahkan sampaikan pemikiran saudara, mungkin kita bisa bertukar pikiran untuk kemajuan Dairi