Yang Miring

Kita Orang Orang Munafik

ilustrasi

Salah satu ciri orang hidup adalah pengharapan. Maka di orang batak adalah istilah “unang leas roham mamereng te na malos, Molo ro udan i mulak rata doi” Sesungguhnya dalam kehidupan setiap orang ada waktu jaya dan ada waktu merana. Maka ketika jaya semua memanggil lae. Namun ketika merana semua memanggil si… . Jadi “hepeng do mangatur”

Sadar atau tidak dalam menata kehidupan, kini banyak terjadi pergeseran nilai. Alat ukur ditentukan oleh uang, jabatan dan pengaruh. Tingkatan tutur dalam marga suku batak ditentukan nomor sebagai urutan atas usia sehingga dijadikan dasar “martutur” . Maka ketika nomornya lebih kecil menandakan lebih tua maka nomor yang lebih besar adatnya memanggil abang.

Kini disebagian orang ukuran itu dirubah tergantung uang, jabatan dan pengaruh. Kalau sudah kaya raya, berjabatan dan berpengaruh maka teman marganya memanggil bang . Jadi abang atau adik ditentukan tingkat pendapatan dan jabatan.

Jadi jangan heran ketika ada pejabat tiba tiba banyak mengakuinya famili, orang dekat atau klaim keluarga  bukan aneh lagi. Itu karena sesungguhnya uanglah yang mengatur segalanya.  Semua dihubung hubungkan mulai dari marga ayah atau ibu  . Tidak ketemu, dicari pertalian dari kakek atau nenek. Jika juga tidak bisa maka diambil pertalian dari nenek moyang. Pokoknya asalah dekat dengan pejabat alasan bisa dicari . Wajar memang mendekat dekatkan, Jangankan mendekati pejabat . Kalau kita dapat togel saja langsung banyak sahabat, famili dan kerabat he..he..he

Menjadi orang dekat pejabat atau orang berpengaruh boleh jadi impian mayoritas manusia normal. Itu karena lebih enak menjadi teman pejabat daripada menjadi pejabat. Teman pejabat jika salah paling kena maki dan dibuang Sedang pejabat jika salah resikonya pindah ke penjara tetapi lebih dahulu masuk TV.

Kini uang sudah menjelma jadi kekuatan raksasa. Berapa banyak orang yang baik, jujur dan tulus namun karena tidak punya uang dan materi akhirnya dikalikan dengan nol. Sebaliknya berapa banyak orang yang penjahat, maling, penipu dan koruptor karena punya uang dan materi lantas diperlakukan seperti  malaikat. Demikian sebahagian fakta betapa dahsyatnya pengaruh uang dalam kehidupan. Maka “hepeng do mangatur”.

Dijadikannya uang menyamai tuhan disebahagian orang justru telah menyeretnya ke lembah kepalsuan. Wajah dipermak dengan topeng. Make up ditebalkan bagai badut dan lidah dilatih untuk terbiasa membelit.

Bolehlah bermain topeng topengan. Boleh jugalah bermain lidah lidahan. Bagiku dan apapun itu sudah biasa dan hanya sebuah gaya jadul yang sangat mudah membacanya. Sesungguhnya bagiku apapun gaya dan cara orang fine fine aja.  Mau berbohong, munafik, dianggap raja atau orang hebat boleh boleh saja. Tidak ada masalah selama ada bagi baginya.

Namun jika bertemu orang munafik, sok bersih, apalagi klaim diri tidak pernah korupsi cara apapun harus kulakukan untuk membuatnya “muntah” dan menjadi bahan tertawaan banyak orang. Disamping aku tidak suka melihat orang munafik aku juga tidak suka mendengar lidah bercabang yang menari nari bak ular.

Namun demikian semua itu bukanlah harga mati karena Hepeng do na mangatur. Yang perlu dicatat bukan hanya aku berpikiran demikian. Banyak orang dan terlalu banyak. Hanya saja tidak pernah jujur mengakui . Sesungguhnya kita orang orang munafik heheheh (Penulis Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar