Yang Miring

Ketika Iblis Langsung Masuk Surga

ilustrasi

Ketika kecil menonton bioskop bagiku sangat istimewa. Maklum kala itu belum ada televisi apalagi gadget. Jadi yang membuat menonton menjadi istimewa itu  karena duit tidak punya . Sekali waktu melihat anak seusiaku masuk tanpa karcis hanya bermodalkan kaitkan telunjuk diikat pinggang belakang seorang bapak bapak. Kunilai sebagai tindakan licik bin kotor. Penjaga karcisnya juga diam dan meluluskan pura pura tidak tau . Kala itu kunilai sianak licik, si bapak bapak sok pahlawan dan penjaga karcis buta. Bagiku ketiganya brengsek.

Dalam kitab suci diceritakan setiap penjahat dan pendosa harus melewati neraka dulu untuk sampai ke surga. Sedang iblis akan kekal abadi penghuni neraka. Kuyakini  janji itu karena aku beragama. Tuhan akan berlaku adil menghukum penjahat dan memuliakan yang baik.

Dalam perjalanan hidup terkadang terlihat kalau iblis langsung masuk surga.  Pendosa dan penjahat tanpa proses penghukuman langsung dijadikan pahlawan. Sudah demikian mulus patengtengan pula. Begitu mudahnya melupakan masa lalu hingga tak jarang penjahatlah yang menerima piala. Pecundang secepat kilat jadi pahlawan. Dan petani tulus hanya selalu mendapat lelah sedang panen dikuasai para munafikun dan pemanfaat situasi.

Dalam sebuah pilkades terlihat pertarungan panjang dua kekuatan super. Hingga pertarungan panjang itu dimenangkan calon yang didukung kaum lemah namun tulus. Karuan saja pendukung yang kalah dari kaum borjuis, pemilik modal dan superior itu kelimpungan. Namanya pemilik modal dan borjuis ada saja cara dan akalnya agar tidak direndam di neraka. Menyogok Tuhan tidak mungkin maka senjata terbaik dekati penjaga pintu, suap hingga berbagi hasil pencurian dulu demi terhindar dari hukuman.

Caranya sederhana cari manusia ambisi dan berpengaruh yang dekat dengan  pemenang pilkades. Penuhi kebutuhannya maka manusia ambisi demikian tidak akan ingat lagi firman Tuhan itu kalau penjahat direndam dulu di neraka baru masuk surga. Yang ada dipikirannya cair, ambisi terpenuhi maka dengan mudah dia mencari alasan agar para pendosa ini langsung masuk surga dengan mencuci otak kepala desa.

Sesungguhnya manusia begini bukan hanya berbahaya namun lebih parah lagi kelak akan menikam dari depan. Bagiku jenis begini bukan hal baru lagi. Biasanya jenis begini adalah barang KW minimal bermuka dua. Namun pandai membaca situasi. Dinilai berbahaya karena sama sekali tidak pernah mengerti arti lelah dan berjuang. Kalau serius berjuang hingga berdarah darah maka tidak mungkin semudah itu melupakan sesuatu yang sakit. Kalau asli dia akan tahu arti keadilan tindakannya menyakiti orang orang serius yang berjuang hingga berdarah darah.

Memang benar pejuang hanya mendapat dikenang bahkan mungkin dilupa. Namun pemanfaat situasi  akan selalu menikmati manisnya buah kelicikan.

Pun demikian menjadi licik tidaklah salah ketika bisa bagi bagi dari hasil kejahatannya. Bukankah dalam hidup manusia seseorang baru berharga ketika menguntungkan bagi kita?. Ketika tidak menguntungkan jangankan orang licik, orang baik sekalipun kita salahkan. 

Jadi intinya adalah silahkan keluarkan jurus masing masing memuaskan ambisi. Silahkan tutup mata sebagai penjaga karcis. Silahkan tidak bertindak adil dan tidak menjaga moral. Namun ingat bagi bagilah hasil kejahatan itu agar nanti juga bareng bareng di neraka. Percayalah sendiri di neraka itu tidak enak. Coba kalau rame rame bisa reuni dan saling menatap mengingat kebusukan bersama  di dunia sambil dipanggang di lidah api yang menyala nyala ( Penulis : Hendrik)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar