Seleb

Jonathan Lumbanbatu “Parsidikalang” Pertama Masuk Universitas DVC USA

Jonathan bersama Ketua PDIP Dairi Resoalon Lumbangaol dan Pemred Dairi Pers Hendrik Situmeang

Sidikalang-Dairi Pers: Mengecap pendidikan di Universitas bergengsi di Amerika Serikat boleh jadi mimpi banyak orang. Namun persaingan dan kemampuan telah menjadi filter kuat hingga hanya beberapa orang mampu menembus universitas di Negeri Paman Sam.  Siapa sangka Jonathan Lumbanbatu anak Sidikalang tahun silam berhasil lolos di terima di Universitas DVC Amerika Serikat jurusan ITE. Siapa Jonathan dan bagiamana dia di negerinya Donald Trumph itu bertahan?

Disebuah cafe di bilangan jalan Pakpak Sidikalang jumat malam (24/7) Jonathan Lumbanbatu bertemu dengan teman temannya. Jonathan harus kembali ke Indonesia sebulan lalu dan kuliah secara virtual pasca keributan etnis di  Califonia, Amerika

Dairi Pers di dampingi ketua DPC PDI Perjuangan Dairi Resoalon Lumbangaol mengorek banyak hal tentang suka duka menjadi mahasiswa di negeri paman Sam itu.  Jonathan Lumbanbatu juga tidak pelit dengan pengalaman serta suka dukanya selama belajar di negara bagian California.

Diuraikan Diablo Valley College  (DVC) adalah universitas negeri yang terletak di Pleasant Hill, California. Amerika Serikat .  Selain di Pleasant Hill, perkuliahan juga diadakan di kampus San Ramon dan pusat studi Walnut Creek. Keinginan kuatnya untuk dapat menimba ilmu di benua Amerika itu mendapat restu orang tuanya yang tinggal di Simpang empat Sidikalang. “ Usaha ayah saya fotocopi dan ibu seorang PNS di pemkab Dairi. Meski demikian mereka sangat mendukung niat saya untuk bisa masuk universitas di Amrik.” Sebut Jonathan memulai kisahnya.

Dikatakan tahun 2019 dirinya akan menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Sidikalang.  Jonathan yang merupakan jurusan IPA itu tiba tiba saja ingin mencoba peruntungan bisa masuk universitas di Amerika. “ Saya lihat dan cari tahu ternyata ada satu universitas di California predikat negeri.  Jujur saja kalau universitas swasta kami tidak mampu. Maka saya coba mengikuti test dan persyaratan melalui internet” sebutnya.

Ternyata hasil ujian Jonathan diterima untuk jurusan ITE dan dari sini dimulai kisah perjalanannya ke negeri Donald Trump. Dengan memberanikan diri anak “parsimpang Opat” itu berangkat dengan penerbangan  pesawat direct 17 jam ke amrik. “ Saya percaya diri saja dan keinginan kuat harus bisa bersekolah disana. Orang tua juga mendukung dan saya tidak mau mengecewakan mereka” sebutnya sambil mengenang masa setahun lalu pertama kali tiba di Amerika.

Jonathan dengan latar golden gate mascot negara bagian california dengan baju kaos Sidikalang coffee town

Jonathan menyebutkan dengan menguruskan berbagai surat surat mereka harus melapor ke keduatan RI di sana dan mendapat izin sebagai mahasiswa indonesia di Amerika. DVC merupakan universitas negeri di negara bagian california yang berdiri sejak 1949.

Faktanya mahasiswa disana sedikitnya berasal dari 50 negara. Maka pergaulan sudah sistim internasional. Diuraikan Jonathan dengan uang kuliah sekitar Rp. 50 Juta per tahun, dia bersama 7 mahasiswa lainnya mengontrak rumah dekat kampus DVC. “ Untuk makan saya masak sendiri karena untuk makan disana sekitar Rp. 100 ribu untuk satu piring nasi.  Jadi kalau masak sendiri bisa mengirit” sebutnya. Ada sih rumah makan padang tetpai lumayan jauh dan harganya mahal , tambahnya

Dikatakan rata rata mahasiswa disana mengambil kerja Part Time dengan penghasilan $12 per jam. “ Saya sendiri menjadi tutor dan digaji $ 12 per jam. Jadi kalau dikumpul kumpul bisa juga dapat sekitar Rp. 20 juta perbulan. Jadi bisa bertahan dan menabung” sebut Jonathan.

Saat ditanya informasi mahasiswa luar juga sering menjadi cuci piring di restoran di amrik, Jonathan menyebutkan apapun propesinya disana yang kerja part time itu pendapatanya $ 12 dolar per jam. Karena disana itu UMR” Jelas Jonathan.

Ditanya bagaimana pendidikan disana , jonathan menguraikan memang berbeda dengan tenah air.  Sedang pola hidup disana benar benar berbeda dengan tanah air. “ Apa ya…saya lihat kalau lagi kerja ya  konsen. Nah kalau lagi santai benar benar dinikmati. Terus cuek dan masing masing urus diri sendiri aja” sebutnya.

Saat ditanya seberapa banyak mahasiswa Indonesia di sana, Jonathan menyebut tidak banyak ‘ Kalau orang batak hanya saya dan anaknya pak Efendi Simbolon yang sempat calon gubsu dulu. Ada sih dari jakarta beberapa” jelasnya.

Kita bersyukur karena ada perkumpulan mahasiswa indonesia dan kita banyak komunikasi tentang hidup di negeri orang. Bisa jumpa diwaktu waktu tertentu. Sedang jika rindu kampung halaman dan orang tua bisa VC (Vidio call). Jadi rindunya bisa langsung terobati “ sebutnya sambil tersenyum.

Saat ditanya apa nantinya ingin beristerikan orang bule dan akankah kembali ke Indonesia usai pendidikan. Jonatahan sambil tertawa mengatakan untuk sekarang tidak terpikirkan tentang wanita. “ Kalau ditanya ingin kembali rasanya tidak ya karena disana sepertinya lebih sejahtera tingkat kehidupan. Toh jika sudah lima tahun berdomisili dapat mengurus kewarga negaraan amerika” sebutnya.

Akan halnya kembali ketanah air Jonathan menyebutkan imbas dari kerusuhan etnis di amerika bulan lalu. “ Kalau soal covid disana biasa biasa saja saya lihat. Jadi kepulangan sekarang karena kerusuhan itu. Memang parah sih” sebutnya.

Kalau dari Amerika penerbangan direct itu hanya 17 jam biayanya sekitar Rp. 5 juta saja tetapi sampai singapore. Dari singapur ke Indonesia paling 1 juta. Jadi total hanya Rp. 6 juta. Beda kalau kita dari jakartanya bisa Rp. 12 juta sebutnya.

Saat ditanya pesannya bagi anak anak Indonesia yang ingin belajar di amerika Jonathan menyebutkan tidak usah khawatir. Jika punya cita cita ke Amerika beranikan saja. Disana banyak pekerjaan yang bisa membuat kita survive sambil sekolah . Jadi jangan menyerah, jalan selalu ada” sebutnya (Hen)