Opini

Jasmerah, Menelisik “Rusaknya” RSUD Dairi

penulis Hendrik Situmeang

Jika hari ini kita melihat Ambulance RSUD Dairi minimal 3 kali sehari harus merujuk pasien ke Medan lantas orang yang  kita salahkan adalah dr Hendri Manik sebagai dirut . Boleh saja pendapat itu bagi kaum awam yang sama sekali tidak mengerti sejarah peralihan pengelolaan RSUD Dairi dari dr Reinfil Capah kepada dr Daniel Sianturi. Lantas siapa sebenarnya paling bertanggung jawab atas “rusaknya” pelayanan RSUD Dairi?

Catatan Dairi Pers selama lima tahun awal pemerintahan Jonny Sitohang RSUD Dairi merupakan unit paling kerap disoroti media ini akibat terus menurunnya kwalitas pelayanan. Keluhan pasien dan rasa tidak puas sudah mulai muncul di tahun pertama sejak dr Reinfil Capah digantikan dr Daniel Sianturi.

Mereview “berkibarnya” RSUD Dairi ditangan dr Reinfil Capah saat Bupati Dairi kala itu dijabat DR MP Tumanggor mengangkatnya menjadi direktur utama. Butuh beberapa tahun Reinfil untuk membangun dan merubah pelayanan RSUD mulai dari penyediaan tenaga kebersihan, manajemen rumah sakit hingga tersedianya dokter spesialis.

Dua tahun pengelolan dr Reinfil capah membuktikan RSUD Dairi sudah menjadi pilihan dan tempat rujuk pasien dari kabupaten Pakpak Bharat, Humbahas, Tobasa, Karo bahkan dari Aceh singkil propinsi NAD.

Saat dirut dijabat d Reinfil Capah nama RSUD Dairi harum. Pasien rujukan sangat jarang terjadi dan saat inilah RSUD Dairi terlihat bersih dan larangan merokok berjalan dengan sempurna. Dijaman ini juga terbangun ruangan VIP di RSUD. Kebiasan reinfil kala itu “sweeping” kepada keluarga pasien yang jaga langsung menegur jika merokok atau membuang sampah sembarangan membuat pelayanan RSUD Dairi mendapat acungan jempol.

Saat itu juga usulan dr Reinfil menjadikan RSUD Dairi sebagai BLU sudah diwacanakan.

Pilkada 2008 yang akhirnya dimenangkan Join Pas kala itu .Tidak butuh waktu lama jabatan RSUD Dairi langsung digantikan kepada dr Daniel Sianturi. Untuk satu tahun masih bertahan meski harus diakui kwalitas pelayanan terus menurun. Tahun tahun berikutnya keberadaan RSUD Dairi dengan bergantinya tenaga harian lepas , keluhan pasien terus dikumandangkan. Bahkan dalam rapat rapat DPRD Dairi masalah RSUD Dairi ini kerap muncul disampaikan anggota DPRD Dairi.

Anggota DPRD Dairi Martuan Nahampun merupakan wakil rakyat paling sering “berteriak” di DPRD Dairi akan buruknya pelayanan RSUD Dairi. Beberapa kali wakil rakyat ini mendatangi langsung RSUD Dairi setelah mendengar keluhan pasien.

Masalah pelayanan, alkes, tabung oxigen, masalah klasik obat yang tidak tersedia, hingga keluhan pelayanan medis dan praktek nakal benang cantik. Sejalan demikian mobilitas ambulance untuk mengantarkan pasien rujuk terus terjadi dan meningkat tiap tahunnya. Hingga pada titik kulminasi muncul kala itu sarkasme menyebut “ Ambulance RSUD Dairi bersaing dengan Datra dan Sampri ke Medan”

Ironisnya meski media massa terus menyoroti kwalitas RSUD Dairi yang terus dikeluhkan pasein, namun tetap saja pemerintahan Join Pas kala itu tidak perduli dan mempertahankan dr Daniel  menjabat dirut RSUD Dairi.

Dijaman ini juga diketahui calon pasein dari sekitar kabupaten Dairi tidak pernah lagi masuk ke RSU Dairi.

Tahun 2015 Dairi Pers menguplod kondisi RSUD Dairi yang banjir karena kerusakan talang dan sanitasi yang tidak memadai di Youtube. Lantai gang rumah sakit penuh dengan air sedang tanah taman memasuki lantai lorong rumah sakit. Namun demikian kritik atas  RSUD Dairi tetap saja dianggap  angin lalu.

Pada saat jabatan RSUD Dairi dijabat dr Daniel Sianturi juga diketahui sejumlah pembanguan seperti pembangunan sarana air limbah yang diketahui kini bak penampungannya berada di lapangan RSUD Dairi. Sebuah lokasi penampung limbah yang cukup ironis.

Dijaman dr Daniel juga memuncak sejumlah kasus korupsi alkes terjadi hingga dua stafnya harus dipecat dari ASN dan menjalani hukuman di penjara. Keprihatian anggota DPR RI Junimart Girsang akan kondisi rumah sakit Dairi juga kerap di degungkan. Beberapa kali dewan senayan itu melakukan kunjungan dan melihat keberadaan RSUD Dairi yang dikeluhkan warga.

Beberapa isu yang berkembang kala itu berkaitan dengan alkes yang tidak sesuai spek hingga hutang RSUD kepada vendor obat.

Isu itu seakan mereda sejak dr Daniel Sianturi naik pangkat diangkat menjadi pejabat eselon II sebagai kepala dinas KB Dairi. Dr Hendri manik mendapatkan “warisan” masalah yang kompleks. Meski dr Hendri Manik sama sekali tidak mau menyampaikan masalah yang terjadi meski menjadi bulan bulanan media massa . Namun dugaan kuat permasalahan yang dihadapi di RSUD Dairi mulai dari disiplin personil yang sangat kendor. Dugaan personil  RSU yang mayoritas berdasar nepotisme mulai dari tenaga kerja harian hingga ASN yang bertugas  membuat penerapan disiplin tidak berhasil dilakukan . Dugaan korupsi dilingkungan RSUD Dairi juga membuat dr Hendri sulit bangkit mengelola RSUD Dairi menjadi benar.

Bupati Dairi DR Eddy Berutu- Jimmy Andrea Lukita Sihombing yang awal pemerintahannya langsung melakukan sweeping di RSUD menjadikan unit ini sebagai perhatian utama. “Geram” bupati atas berbagai keluhan dan sejumlah kisah pilu pasien meninggal dunia sebelum mereka dilantik menjabat Bupati Dairi seungguhnya sebuah akumulasi panjang kegagalan manajemen RSUD melanjutkan apa yang telah dimulai dr Reinfil capah.

Konon kini Bupati DR Eddy Berutu telah meminta dr Reinfil Capah dan Budiman Simanjuntak untuk ikut memperhatikan kondisi RSUD Dairi menjadi sebuah terobosan dalam program 100 hari kerja Eddy- Jimmy. Hadirnya dua tokoh dokter senior itu setidaknya bisa menguraikan kembali apa sesungguhnya yang terjadi dalam pengelolaan RSUD Dairi tahun sebelumnya.

Mengetahui sejarah panjang menurunnya pelayanan RSUD Dairi hingga menjadi keluhan warga Dairi menjadi titik awal perbaikan .  setidaknya untuk Bupati Eddy Jimmy yang menempatkan Pelayanan kesehatan masyarakat sebagai salah satu  pilar , juga harus mengetahui fakta sesungguhnya yang terjadi di RSUD Dairi mulai dari dugaan nepotisme personil , penegakan disiplin dan dugaan korupsi yang   menjamur di unit tersebut .(*)

def

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

  • Oh…. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Dairi, satu Kabupaten tertua di SUMUT.
    Direkturnya dan Kepala Dinas Kesehatannya itu dipenjarakan saja, jangan hanya terima Gaji dan cari uang dari praktik donk.
    Di P Jawa ini RS di Kecamatan saja sudah ber-kelas minimum C, sarana dan peralatannya lengkap, atau coba bandingkan dgn Berastagi saja.
    Alasannya tidak ada anggaran ?
    Diundang ke Jakarta saja yg datang hanya Staf, meremehkan sekali, mau dibantu koq susah.
    Kalau sudah tau APBD kecil ya APBN kita sangat besar, tapi mbo komunikasinya jangan sombong…!
    Daerah-daerah lain koq bisa, kenapa Dinkes Sidikalang nggak ?
    Saya khawatir statistik saja nggak punya ini RSUD.