Yang Miring

Jalan Sunyi di Dermaga Sepi

Ilustrasi

Mungkin diantara kita pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. ABG tahun 90- an bilang cinta kelapa. Kita cinta dia gak pa pa. Mau tau rasanya? Sedih, malu , pahit dan Sakitnya tuh disini. Orang milineal   sekarang menyebutnya PHP. Maka kelak akan tiba saatnya sebuah jalan sunyi di dermaga sepi. Dermaga yang harusnya ramai dengan kapal berlabuh dan bongkar muat barang  kelak akan ditinggal . Jalan yang harusnya hilir mudik berakhir sunyi. Bukan dermaganya yang tidak bagus tidak juga karena jalannya tidak mulus. Namun ada satu yang salah  disitu salah kelola dan me “nol” kan rasa.

Meski saya penulis di kampung kampung saya bisa merasakan betapa kecewanya Surya Paloh kepada Jokowi usai pertarungan tahap II selesai. Bak berbalas pantun keduanya saling sindir  di event yang berbeda. Tidak ada yang salah diantara keduanya. Jokowi melihat luas dan keutuhan NKRI jauh ke depan. Mungkin bang Paloh merasa ditinggalkan setelah “habis habisan” mendukung dan berjibaku.

Sesunguhnya tidak ada yang salah diantara keduanya. Hanya satu  yang salah harusnya Jokowi melibatkan orang orang yang berkorban untuknya. Melibatkan tidak melulu karena memberikan jabatan dan proyek. Namun melibatkan dalam artian diikutsertakan dalam masukan  hingga timbul rasa dihargai atas lelah orang orang yang mencintainya.

Dalam kehidupan sehari hari bukan hanya di level presiden saja  demikian bahkan di level kepala desa bisa terjadi. Orang yang merasa sudah lelah, cape berjuang hingga menang namun janji janji begitu lama terbukti bisa kecewa hingga memilih jalan menghindar, ABS hingga lebih ekstrim berubah mengkritisi dan oposisi.

Tentunya bukan satu dua lagi kisah cinta bertepuk sebelah tangan berakhir tragis. Ada yang fatal hingga membunuh . Dan paling tipis gunakan santet karena kesal . hehehe. Cepat atau lambat ketika janji bersama tidak ditepati maka dermaga akan perlahan ditinggalkan kapal . Satu persatu akan bergerak menjauh memilih pelabuhan lain. Setali tiga uang jalanan juga akan sunyi dan tinggallah sendiri.

Namun saya kembali senang melihat negarawannya Jokowi karena Surya Paloh telah dipeluk. Tentunya pelukan tidaklah cukup namun harus dilanjut dengan komunikasi saling bertanya dan terbuka “ Ada apa denganmu?”. Sesungguhnya komunikasi adalah obat maha dahsyat dalam politik. Maka jika seorang pemimpin tidak membuka komunikasi dengan pendukungnnya maka yakinlah tidak lama kemudian dia akan berubah menjadi lawan yang sangat mematikan.

Rasa tidak puas adalah hal biasa dalam perjalanan. Namun tujuan bersama harus nyata. Ketika tujuan mulai dilupakan bahkan dikhianati maka bersiaplah ditinggal menjadi dermaga sepi. Sepi hilang sahabat bukan berarti tidak ada di sekelilingnya. Pasti akan semakin banyak merapat layaknya Jokowi berjauhan dengan Surya paloh. Otomatis banyak gerbong baru masuk. Namun gerbong baru belumlah menjadi jaminan karena sesungguhnya persahabatan sejati harus melalui banyak test yakni suka dan duka. Tingkat original persahabatan diuji disana.

Namun demikian tetap harus mengingat ilmu jadul sesungguhnya dalam ilmu “ pandi dan mandi” yang berlaku hanya dua pasal. Pasal 1 Pimpinan tidak pernah salah dan pasal 2. Jika pimpinan salah maka lihat pasal satu. (Penulis Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar