Yang Miring

Ima Jo Tusi Bodok Bodok

Ilustrasi Mengejek

Usai Pilpres semua orang berharap rekonsiliasi. Namun pemahaman rekonsiliasi berbeda diantara mereka. Satu kelompok mengartikan rekonsiliasi sebagai langkah damai dengan syarat semua yang melakukan kejahatan dalam rangkaian proses politik agar dilepas dari jerat hukum. Maka hari ini ketika Prabowo-Jokowi bertemu di MRT sejumlah orang yang merasa sudah berjuang  kepanasan dan ngedumel tak menentu. Yang jelas itulah politik yang menjadi alat ukur adalah kepentingan. Jadi mereka yang ikut ikutan hanya mendapat jawaban “ ima jo tusi bodok bodok” (kalau bahasa indonesianya kira kira itulah dulu kesitu bodoh bodoh) he..he..he…

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Namboru Ratna Sarumpaet, Lae nami Ahmad Dhani, Oppung Amin Rais ,  Kivlan Zein  beberapa orang lainnya  yang kini dipenjara karena menebar Hoax dan fitnah  kini dipenjara  dan emak emak yang katanya mati matian, berpanas panasan ikutan berpolitik dan demo di Bawaslu dan KPU. Tentu kita pernah merasakan ketika seseorang yang kita bela bela tiba tiba berpelukan dengan lawannya. Kecewa dan  sakitnya tuh disini.

Kira kira bagaimana sakitnya hati ibu ibu yang di jawa barat sampai menebar fitnah dari rumah ke rumah sebut jika jokowi menang maka azan tidak bisa lagi di mesjid?. Tiga ibu ibu itu diproses hukum karena menebar Hoax. Kurasa tiga ibu ibu “jabir” tersebut hatinya bagai tersambar petir melihat pelukan indah Jokowi- Prabowo hari ini.

Bagi saya menyaksikan hal demikian bukanlah hal luar biasa dalam kancah politik. Banyak alasan yang bisa disampaikan seperti demi kepentingan negara, keutuhan dan lain lain. Namun dalam politik itulah yang disebut dengan “Ima jo tusi Bodok bodok”. Orang bodoh memang akan selalu menjadi korban perasaan ketika hanya ikut ikutan berpolitik. Sekedar penggembira atau hanya tim hore hore saja. Hasilnya pahit gaess..

Mereka yang melakukan fitnah, provokasi, hoax . Menebar kebencian di medsos akhirnya meninggalkan jejak. Kalaupun yang didukung menang belum tentu dia menjadi orang pertama yang diperhatikan. Apalagi kalau sudah kalah. Lihat pula yang didukung pelukan tentunya serasa mau bunuh diri.

Apa yang hari ini dilakukan Jokowi- Prabowo adalah sebuah pembelajaran bagi rakyat. Bukan hanya di level pilpres hingga level pilkada fenomena serupa terjadi .Menebar  fitnah, hoax dan  kebencian di facebook merupakan hal paling murah dan mudah dilakukan rakyat untuk menyerang orang yang tidak didukungnya.

Usai Pilkada dan jagoannya kalah  justru salah tingkah. Mau mendekat suasana mata disekeliling melotot. Senyum yang dilontarkan justru terkesan mengejek  .Mau oposisi tidak punya nyali. Akhirnya “menebal nebalkan wajah” saja dengan lebih dahulu menghapus status status penghinaan yang disebar dulu di FB nya. Bayangkan jika dua kubu yang berseteru tiba tiba  berpelukan maka hatinya akan semakin hancur.

Jadi pesannya  dalam politik harus diingat. Jikapun menjadi pendukung maka jangan lebay. Jangan merasa hakim dengan vonis vonis mematikan. Menebar status seakan akan dengan statusnya lantas semua orang bisa tunduk dan sependapat dengan jalan pikirannya. Dengan menulis status fitnah dan penghinaan di FB lantas yang didukungnya menang .  

Kejadian dua kubu berpelukan maka dia orang paling kepanasan. Ingat lawan politik bisa dimaafkan namun tidak kepada tim hore hore yang  hanya bermodalkan “jabiron” menebar fitnah dan hoax  . “ima jo tusi bodok bodok”. (Penulis : Hendrik)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar