Ekonomi

Harga Anjlok, Petani Pisang Tanah Pinem Biarkan Buah Membusuk

Salah satu tandan pisang barangan yang dibiarkan membusuk

Sidikalang- Dairi Pers : Petani pisang barangan desa Laing Jering kecamatan Tanah Pinem , Kabupaten Dairi menjerit karena harga jual buah pisang barangan anjlok drastis hingga 40 persennya. Petani daerah ini memilih membiarkan buah pisang yang sudah matang dipohon itu membusuk karena dianggap sudah merugikan jika harus dipanen.

Informasi yang dikumpulkan Dairi Pers dari petani daerah liang jering sabtu (26/6/2021) harga jual buah pisang per sisirnya hanya Rp, 2.000. sedang sebelumnya harga sekitar Rp. 4.500 s/d Rp. 5.000 per sisir. Dengan demikian biasa pertandannya sekitar Rp. 50.000. namun dengan harga sekarang per tandannya paling kisarang Rp. 15.000 s/d Rp. 20.000.

Harga itu menurut petani sudah sangat merugikan karena harus membayar biaya pundak hingga ke pinggir jalan menunggu diangkut. Petani setempat menyebutkan harga jual buah pisang barangan berangsur anjlok sejak 3 minggu terakhir hingga kini hanya Rp. 2.000. sementara satu tandannya paling 10 sisir.

 Diakui kalau pedagang pembeli tetap menjemput pisang ke lokasi biasa ditumpuk ,  namun harga yang tidak menguntungkan itu membuat mereka memilih membiarkan pisang busuk di pohon. “ Kalau tauke penampung tetap datang untuk membeli . Namun karena kebun disini umumnya jauh dari jalan  maka biaya untuk pundak harus dikeluarkan. Sehingga dengan harga Rp.20.000 pertandan dan biaya pundak Rp. 5.000 petani hanya bisa mendapat Rp. 15.000. dengan nilai itu mendingan kita biarkan membusuk” sebut Ginting salah satu petani pisang liang jering.

Sementara itu di dusun gunung datok diketahui areal perladangan pisang  barangan cukup luas dan merupakan komoditi andalan warga disana. Dengan harga anjlok demikian pisang daerah itu terpkasa dibiarkan tidak dipanen.

Diakui warga Dusun Gunung Datok harga demikian baru pertama kali terjadi dan tidak diketahui penyebabnya. Biasanya paling anjlok Rp. 3.000 per sisir. “ Untuk sekarang harga Rp. 2.000 per sisir juga sulit ditampung. Pedagang paling minta Rp. 1.500 per sisir. Jadi sudah sangat rugi” jelas mereka. (S. Ginting)