Politik

Franc Bernhard Tumanggor Diantara Karya Ortu di Dairi & Pakpak Barat

Franc Bernhard Tumanggor Bersama Cawapres KH Ma’ruf Amin

Sidikalang-Dairi Pers : Hadirnya putera mantan Bupati Dairi DR Master Parulian Tumanggor dalam kancah politik pileg 2019 sepertinya  membawa kisah reuni kembali sejumlah karya besar MP Tumanggor saat menjabat  sebagai Bupati di Dairi. Baginya karya yang pernah ditorehkan sang ayah sangat membanggakan meski  ada rasa sedih diantaranya.  Namun baginya tidak ingin membiarkannya berlalu  hingga hilang tidak memberi manfaat bagi  banyak orang .

Demikian diungkapkan Franc Bernahrd Tumanggor usai mengelilingi sejumlah desa desa di Dairi Kamis (21/12). “ Saya ditunjukan Pusat Distribusi Regional (PDR) di Sitinjo , PDR di lae pondom yah… kondisinya seperti itu.  Saya melihat Taman Wisata Iman, saya juga melihat Stadion Sidikalang dan saya melihat kondisi Pakpak Bharat sekarang.  Mungkin terlalu tinggi saya berkhayal bisa mengembalikan itu semua kepada konsep awal untuk kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain saya tidak bisa menutup mata melihat kondisi itu semua. Mungkin saya bisa memulai dari hal terkecil bisa mewakili rakyat Dairi , Pakpak Bharat dan Karo di Propinsi sumatera Utara . Langkah ini akan menjadi langkah awal karena bagaimana juga bisa menjadi pintu masuk memperbaiki itu semua” sebut Franc

Franc menyebutkan informasi akan karya sang ayahandanya justru didapat dari para rekan orang tuanya dahulu semasa bertugas di Dairi. “ Ayah tidak pernah memberitahukan itu kepada saya, namun saat saya menjelajahi Dairi justru masyarakat menceritakan itu.  Itu membuatku penasaran dan saya turun melihatnya. Iyah… saya tidak berhak menyalahkan siapa siapa. Namun saya merasakan jika itu bisa diberdayakan kembali secara maksimal maka perekonomian masyarakat Dairi  dan Pakpak Bharat tentu akan sangat berpengaruh, katanya.

Stadion Sidikalang Karya DR MP Tumanggor

Franc yang kini menggeluti usaha perkebunan dan transportasi di Sumatera Utara itu menyebutkan beberapa karya ayahandanya seperti PDR di Sitinjo dan di Lae pondom , Taman wisata iman berkiblat pada perekonomian dan Pendapatan asli daerah. Pada muaranya adalah kesejahteraan rakyat. PDR jika berjalan seperti fungsinya akan menyelamatkan hasil panen petani dari harga anjlok. PDR bisa menyimpan sementara hasil panen masyarakat ketika harga dipasaran anjlok.  Keluhan petani Dairi yang saya terima di lapangan tidak terjaminnya harga panen. Padahal sudah ada salah satu cara menekan keresahan itu. Sayang belum  kita manfaatkan” Ujarnya.

Franc menyebutkan Parbuluan , Pegagan Hilir serta sebagian Sidikalang dan Sitinjo merupakan sentra hortikultura Dairi. Petani daerah ini selalu dilanda resah ketika musim panen tiba. Harga jual selalu menjadi persoalan legendaris. “ jika harga hortikultura turun dipasaran bisa sementara ditampung di PDR karena memang untuk fasiitas pengawetan. Demikian juga PDR khusus pengawetan ikan di Lae pondom jika difungsikan tentu menyelamatkan petani kerambah ikan di Silahi sabungan.  Ini bisa dimanfaatkan ketika harga di pasaran sudah membaik baru dikeluarkan dari PDR ” Sebutnya.

Namun demikian Franc menyebutkan belum terlambat untuk kembali memikirkanya mengembalikan fungsinya dan mengelolanya secara modern. “ Tentu seorang dewan bisa mendorong pemerintah untuk memfungsikan hal demikian  kembali. Karena memang tugas pemerintah dan legislatif adalah bagaimana mensejahterakan rakyat. Saya melihat ini salah satu celah bagaimana mengatasi masalah harga panen  petani yang selama ini serasa gambling ” tambahnya.

Dikatakan  sebenarnya banyak peluang dan cara untuk memproteksi harga jual pertanian masyarakat. Tentunya hal itu hal  tanggung jawab pemerintrah. Disisi lain dewan harus selalu memberi masukan dan berjuang  di meja persidangan untuk hal hal yang pro rakyat.

Sementara itu akan keberadaan stadion Sidikalang disebutkan Franc bervisi kepemudaan dan olah raga.  “ Kalau informasi akan stadion ini memang diaktifkan dan sering menjadi pusat berbagai kegiatan pemuda dan olah raga. Lokasinya yang dipindahkan ke Sibura bura tentu bervisi jauh akan perkembangan kota Sidikalang ketika stadion lama mulai dirasakan mulai terjepit oleh perumahan dan perkembangan kota.

Namun untuk kolam renang yang berada disamping stadion dikatakan Franc harus ditinjau kembali bagaimana pengelolaan dan pemanfatannya. Sayang sekali fasilitas ratusan juta rupiah itu dibiarkan. Padahal jika dikembangkan bisa berpengaruh poistif pada olahraga renang, loncat indah dan olah raga air lainnya.

Namun demikian dikatakan Franc tidak ada kata terlambat. Bagaimana sebenarnya pemerintah dan dewan menyikapinya.  Saya fikir ini menjadi tugas ringan jika legislatif dan eksekutif satu visi.  “ Menurut saya tidak ada ruginya jika ini diberdayakan. Bahkan disinilah peran dewan baik daerah maupun propinsi bisa bersama mendesak pemerintah dan mencarikan jalur anggaran sehingga fasilitas demikian bisa kembali diberdayakan” pungkasnya.

Kolam Renang Yang masih bisa diberdayakan

Bagaimana komentarnya akan   Pasar Sidikalang, TWI  dan karya terbesar bernilai sejarah yang tidak terlepas dari ayahandanya DR MP Tumanggor  berdirinya  Kabupaten Pakpak Bharat akan dilansir berikutnya. (Hen)