Internasional

Dari Sarajevo, Hinca Panjaitan Sampaikan Betapa Berharganya Pancasila

DR Hinca Panjaitan bersama Pimpinan MPR RI yang kini tengah berada di Sarajevo
DR Hinca Panjaitan bersama Pimpinan MPR RI yang kini tengah berada di Sarajevo

Sarajevo-Dairi Pers : DR Hinca Panjaitan XII Komisi III DPR-RI dalam lawatannya ke kota Sarajevo ibu kota Bosnia Herzekovina sabtu (24/11) melalui pesan whatapp-nya kepada Media Dairi Pers menyampaikan betapa berharganya Pancasila di negara kesatuan Republik Indonesia. Sejarah panjang Yugoslavia yang dilanda perang saudara membuat negara itu terpecah menjadi beberapa negara. “ Kita sangat bersyukur dengan adanya Pancasila sebagai ideologi, pemersatu, menghargai kebhinnekaan membuat bangsa ini kuat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Disini mereka tidak memiliki semacam itu sebagai ideologi negara . Kita harus bangga memiliki Pancasila. Karena itu, kita harus menjaga dan melestarikannya”.

Dari ibu kota seluas 141 km persegi itu DR Hinca Panjaitan yang kini tercatat sebagai Caleg Partai Demokrat untuk Dapil III Sumut itu menyebutkan negeri ini sebelumnya berada di negara kesatuan Yugoslavia. Namun karena karena pertempuran antara etnis Kroasia, Bosnia dan Serbia, negara kesatuan Yugoslavia akhirnya pecah. “Perang menyisakan kepedihan, kerusakan dan penderitaan . Untuk recovery-nya membutuhkan waktu yang cukup lama. Sejarah pertempuran etnis 25 tahun silam di negara ini menjadi pelajaran berharga bagi negara manapun di dunia termasuk Indonesia untuk saling menghargai kebhinnekaan” sebutnya.

DR. Hinca dan Rombongan di Sarajevo Bosnia
DR. Hinca dan Rombongan di Sarajevo Bosnia

Hinca Panjaitan yang berkunjung ke negara eks Yugoslavia itu bersama Pimpinan MPR–RI itu menyebutkan melakukan kunjungan kenegaraan .” Di Parlemen Bosnia kami bertukar pikiran agar Visa On Arrival antar kedua negara dapat diberlakukan secara reciprocal konsep. Ketika masa krisis dan peralihan melanda negara ini, Indonesia membantu Bosnia. Salah satunya menyumbangkan satu mesjid besar diberi nama Istiqlal. Kini mesjid itu menjadi icon di kota Sarajevo karena paling ramai dikunjungi untuk ibadah dan menjadi mesjid terbesar saat ini.

Meski sejarah pertempuran etnis sudah berusia 25 tahun dikatakan Hinca kondisi masyarakat masih dilanda trauma. Bukan itu saja, pengaruh perang dengan perekonomian masyarakat juga masih sangat terasa. Pemulihan kembali pasca perang etnis bukan mudah untuk dilakukan, sebutnya.

Hinca Panjaitan yang juga Sekjend Partai Demokrat itu menyebutkan sejarah yang terjadi di Negara kesatuan Yugoslavia membawa banyak pelajaran akan hancurnya sebuah negara. Betapa pentingnya idiologi sebuah negara untuk membuatnya bersatu, bertahan dan berjaya . Pancasila merupakan harga mati bagi semua rakyat Indonesia jika ingin nama Indonesia tidak hilang dari sejarah.

Dikatakan hasil lawatan bersama MPR RI tersebut nantinya akan menjadi masukan kepada pemerintah RI dari DPR RI untuk semakin memperkuat Pancasila dan ideologi negara. Khusus untuk warga Dairi dan Pakpak Bharat, Hinca Panjaitan menyebutkan  kopi yang berkaitan dengan Sidikalang juga diketahui di negeri benua Eropa itu. Berkaitan dengan kopi Sidikalang akan disampaikan berikutnya, ujar Hinca sembari menyebut negara itu kini tengah memasuki musim dingin dan salju. (Hen)