Yang Miring

Dakdanak Simalo malo

ilustrasi

Senior saya seorang tokoh masyarakat di Dairi bercerita khakikat cara bertahan hidup meski harus  berbohong, menipu bahkan jual harga diri. Dengan gaya kocak cerita tamsilan “Dakdanak Simalo malo” (anak sipintar pintar : terjemahan terjun bebas) disajikan apik memaksa adrenalin ngakak wajib keluar. Namun makna dari cerita lucu itu mengandung banyak  pilosopi ,pelajaran berharga betapa bungkus, chasing bisa dikemas namun mesin belum tentu terjamin.

Dikisahkan seorang anak cerdas namun licik melakukan trik agar bisa ikut makan di pesta orang yang meninggal dunia di sekitar rumahnya . Di masyarakat Batak pesta orang meninggal biasa disuguhkan makan daging sebagai penghormatan akhir sebelum jenazah di makamkan.

Anak Licik  ini sudah memasang strategi sejak melihat ibunya mengenakan baju pesta dan ulos berduka yang akan berangkat mengikuti prosesi pemakaman dan makan siang. Anak simalo malo ini sejak pagi sudah berdalih tidak bisa sekolah karena sakit kaki hingga berhasil mengelabui Ibunya.

Namun saat mengenakan baju siap siap ke pesta sang anak minta ikut alasan kakinya sudah lumayan. Sang ibu yang berpikiran satu amplop dua nasi akhirnya berpikir pengiritan hingga sianak diijinkan ikut menumpang. Jadilah dianak mendompleng si Ibu.

Saat makan tiba si ibu dan sianak masing masing dapat satu piring.  Ini awal topeng sianak terbuka. Saat mulai makan nasi pesta sianak protes kalau dagingnya terlalu pedas. “ Ai  hebatma par hobas on mak…sek siak jagalna” protes anak. Maka si ibu menyarankan agar dagingnya dicuci. Maka sianak melanjutkan makan siang dengan lahapnya.

Sangkin enaknya dengan perut kenyang sianak kembali melakukan lagu permintaan. “ Ma adong ma nian muse na mate ateh, alai jagalna uang siak ” sebutnya.

Cerita anak simalo malo sebagai gambaran mentalitas licik dan nakal. Sekali diberi kesempatan maka kelak akan banyak permintaan dan keinginan untuk mengatur. Bukan hanya itu karena sudah terlanjur menikmati maka menjadi siraja tega  tidak apa apa orang mati lagi asal dia bisa beruntung meski orang lain harus celaka.

Banyangkan saja sudah mendompleng, banyak protes, keenakan hingga tak tahu diri berharap ada orang mati lagi namun mengatur agar dagingnya tidak pedas. Dia lupa amplop hanya satu.

Dalam kehidupan untuk bertahan hidup banyak metode dilakukan orang mulai dari pura pura bikin ribut agar dipanggil ikut berpesta. Nangis merengek rengek bak anak kecil agar menjadi pusat perhatian dan akhirnya dipanggil agar tidak bising.

Ada yang sabar menunggu dipintu rumah  pura pura mengakarapi anjing pemilik rumah sehingga sang tuan pemilik anjing bersimpati. Ada juga yang mengancam , menakut nakuti berharap pemilik rumah ketakutan dan memanggilnya.

Sejuta cara dilempar dengan cara licik agar bisa ikut berpesta dan berharap ke depannya bisa mengatur meski tanpa modal. Malu, lupa diri dan hilang harga  diri bukanlah masalah. Urat syarat malu sudah diputus dan merasa luar biasa berhasil menaklukkan orang lain dengan strategi liciknya.

Padahal orang yang menyaksikan tingkahnya ngakak lebar karena strategi lucu itu. Kasihan karena harus menjual harga diri demi mempertontonkan sifat rakus yang dibanggakannya (Penulis Hendrik Situmeang)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar