Pilkada

Cair …! Kata Yang Dinanti Calon Pemilih Dairi

politik uang
Stakeholder Deklarasi Pilkada Damai Dairi 2018

Sidikalang- Dairi Pers : Hasil investigasi Dairi Pers ke sejumlah daerah di kabupaten Dairi terhadap pilkada serentak yang akan dilakukan pada Juni 2018 bahwa pola pikir sebahagian besar calon pemilih Dairi masih terpaku pada satu kata “cair”, meski memahami resiko menerima uang untuk pilkada berdampak pidana penjara. Namun mereka tidak perduli dengan ancaman itu. Malah mereka menyebut tim sukses harus pandai-pandai menyerahkan agar tidak tercium.

Salah seorang calon pemilih warga Pasar Lama Sidikalang yang namanya tidak etis dituliskan dalam pemberitaan ini mengakui jika tidak ada paslon yang memberikannya serangan fajar maka lebih memilih jadi golput. “ Untuk apa saya ikut ikut memilih mendingan saya nonton TV di rumah. Siapa juga pejabat sama saja. “ sebutnya. Pria berusia 50 an tahun ini menyebut selama ini juga para calon pejabat kebanyakan janji namun realisasi tidak terbukti.

Dirinya menyebutkan lebih suka dengan salah seorang calon anggota DPR- RI periode lalu yang vulgar menyebut pengganti hari hari dan ongkos ke TPS. “ Kalau kosong untuk apa, nanti juga pejabat dia senang kita susah dibiarkan “ ujarnya apatis.
Pengakuan money politik menjadi salah satu senjata dalam pilkada bukan hanya di Sidikalang saja. Sejumlah oknum calon pemilih di beberapa kecamatan di Dairi menjadikan uang sebagai alat ukur untuk menjatuhkan pilihan masih sangat tinggi. “Serangan fajar” sepertinya masih menduduki rangking wahid kepada calon pemilih sebelum menentukan pilihan di Pilkada Bupati maupun pilkada gubernur..

“ Kalau kosong untuk apa, nanti juga pejabat dia senang kita susah dibiarkan “

Diperkirakan pendapat ini juga tidak terjadi hanya di daerah perkotaan saja. Penganut uang serangan fajar mengungkapkan bahwa hal tersebut  sesuatu yang wajib agar mereka memberikan hak suara. Dan ini  sepertinya di Pilkada Dairi 2018 ini masih diinginkan mayoritas pemilih di Dairi.
Serangan fajar di level masyarakat lumrah di Dairi dan sepertinya sudah menjadi sebuah budaya. Pola pikir pemilu dan uang sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan masih terus terpatri di mentalitas mayoritas calon pemilih.

Larangan Money Politik

Sementara itu larangan money politic sudah sangat tegas diatur dalam UU dan peraturan. Penerima dan penyuap dalam pemilu dapat dikenakan hukum maksimal 6 bulan penjara. Kendati demikian sepertinya money politic di level masyarakat sudah dianggap sebagai suatu kewajiban. Kesadaran memilih sebagai nadi demokrasi hingga kini belum menyatu di sebahagian masyarakat Dairi. Uang masih dianggap sebagai alat berdemokrasi .

Pola pikir yang sudah “melenceng” itu agaknya diakibatkan sejumlah pemilu sebelumnya yang harus diakui sebahagian besar rangkaian pemilu mulai pileg dan pilkada menggunakan serangan fajar sebagai senjata. Kebiasaan itu diperkirakan telah merusak pola pikir calon pemilih di Dairi . (R.07)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

  • Seputar money politik, memang sangat miris, kondisi itu bukan hanya di Dairi. Tidak berlebihan kalau kita katakan di bangsa ini, setelah otonomi daerah, hanya bentuknya yang beda antara kelas menengah ke atas dengan menengah ke bawah. Salah satu alternatif solusi mendidik bangsa ini, adalah media massa/ pers. Trim’s.