Kriminal

Bak Kisah Orde Baru, Diduga Oknum Polisi Aniaya Saksi dan Paksa Mengaku Sebagai Pembunuh

korban sarpan

Medan- Dairi Pers : Kasus Sarpan yang menjadi saksi di polsek percut Sei Tuan, Deli serdang menjadi perhatian banyak pihak. Kasus sarpan akhirnya meluas hingga mengundang reaksi protes sejumlah lembaga kemanusiaan. Penyiksaan Sarpan mengingatkan praktek hukum masa orde baru.

Reaksi kepolisian langsung dengan Pencopotan Kapolsek serta dimutasinya delapan personel polisi Percut Sei Tuan setelah terjadinya kasus penganiayaan terhadap Sarpan, dinilai Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Sumatera Utara (Kontras Sumut) merupakan hal yang seharusnya dilakukan.

Lebih dari itu, Kontras Sumut mendorong agar lembaga kepolisian menindak pelaku penyiksaan secara pidana.

“Saya kira polisi harus berani mengungkap tuntas kasus ini terutama terkait pidananya. Polisi harus berani mengungkap siapa yang melakukan pemukulan terhadap Sarpan,” kata Koordinator Kontras Sumut M Amin Multazam Lubis pada Jumat (10/7).

Kontras menilai, ada dua sisi dalam kasus dugaan penyiksaan terhadap Sarpan yang harus berjalan sesuai mekanisme hukum. Baik dari sisi sanksi etik yang saat ini tengah berjalan di Propam, maupun dari sisi pidana yang dilaporkan oleh Sarpan ke Polrestabes Medan.

Sementara dari sisi pidana, lanjut Amin Multazam, Sarpan telah membuat laporan polisi terkait dugaan tindak pidana yang dilakukan oknum polisi.

“Kita memang mendorong penegakkan profesi di Propam. Tapi, tidak kalah penting untuk mengungkap siapa pelaku sesungguhnya. Kalau ada laporan, tentu itu harus diproses,” ujarnya.

Paksa Mengaku

Pengacara Sarpan, Muhammad Sa’i Rangkuti, mengatakan dugaan penyiksaan itu telah disampaikan dalam bentuk laporan polisi ke Polrestabes Medan, Sumatera Utara (Sumut) dengan nomor laporan STTP/1643/VII/Yan 2.5/2020/SPKT.

“Berkaitan dengan itu (dipaksa mengaku sebagai pembunuh) sudah kita laporkan sebagaimana laporan resmi. Itu sudah dilaporkan ke Polrestabes Medan,”ujar Sa’i

Kapolrestabes Medan Riko Winarko mengaku institusinya akan mengusut kasus ini secara profesional.

“Komitmen kami kalau benar anggota kami bersalah akan kita proses,” ujar Riko, Kamis (9/7)

Kasus dugaan penganiayaan yang dialami Sarpan, bermula saat dia dijadikan saksi kunci pembunuhan Dodi Kurniawan (41) rekan seprofesinya sebagai tukang bangunan, yang terbunuh di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (2/7).

Dodi saat itu diduga dibunuh, anak dari pemilik rumah tempat keduanya bekerja merenovasi rumah.

Belum diketahui apa motif pembunuhan itu. Polisi hingga saat ini juga masih menelusuri kasus tersebut. Anak dari pemilik rumah yang diduga membunuh Dodi pun sudah ditahan. Bagian dari penyelidikan pembunuhan itu, polisi membawa Sarpan dibawa ke Mapolsek Percut Sei Tuan guna menjalani proses penyelidikan.

Di sana Sarpan ditahan selama 5 hari dan diduga mengalami sejumlah penyiksaan. Lalu, pada Senin (6/7) warga berunjuk rasa menuntut Sarpan dibebaskan.

Namun saat dibebaskan ke dua matanya luka lebam, demikian juga di lehernya, terdapat bekas luka yang diduga bekas setruman. Sarpan kemudian membuat pangaduan ke Polrestabes Medan dengan nomor polisi STTP/1643/VII/Yan 2.5/2020/SPKT.

Polrestabes Medan dan Polda Sumut, menyelidiki kasus ini, salah satunya memeriksa Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Otniel Siahaan dan 8 personel polisi lainnya. Otniel dicopot dari jabatannya. Dia digantikan AKP Ricky yang sebelumnya jadi Kanit Pidum Sat Reskrim Polrestabes Medan. (Hen)