Yang Miring

Anjing Berlalu Kafilah Menggonggong

unta

Anjing menggonggong kafilah berlalu menjadi tamsilan betapa terkadang pentingnya ilmu cuek dalam kehidupan. Namun bayangkan bagaimana gelinya jika pepatah itu dibalik. Anjing berlalu Kafilah menggonggong. Orang sudah cuek namun dipancing pancing agar digonggong. Nah dalam meniti buih kehidupan ada juga yang melancarkan ilmu kolot itu untuk sekedar mencari perhatian  agar dinilai berkontribusi. Bagi pemula ilmu ini masih dianggap canggih dan update.

Untuk menjadi terkenal memang tidak mudah apalagi untuk menjadi populer. Bagi yang ingin isntan biasanya melancarkan jurus anjing belalu kafilah menggonggong.  Maka jika muncul orang berkomentar untuk suatu hal yang tidak difahaminya biasanya pasti akan menjadi bahan tertawaan. Rasa geli akan terasa karena kalimat kalimat yang diatur akan memaksa kita untuk mencari antimo agara tidak muntah

Saya selalu menghormati orang yang propesional di bidangnya. Namun rasa mualku selalu muncul jika melihat orang yang berusaha menjadi orang lain . Menanggapi yang bukan kapasitasnya hingga terbaca jelas tujuannya “angkat telor” untuk mendapatkan sesuatu dari pujiannya yang konyol.

Kira kira apa yang terjadi jika tukang tambal ban berkomentar soal Resufhel kabinet Jokowi ? Lantas berkomentar  jangan ada intervensi karena itu hak presiden.  Jujur aku akan merasakan sepertinya ada jari jari nakal menggelitiki pinggangku hingga aku menggelupur tertawa yang membuat kerongkonganku menahan muntah.

Nah yang pantas menanggapi ini ketua Umum partai, praktisi akademis di universitas. Nah kalau tukang tambal ban berkomentar jangan ada intervensi kepada Jokowi tentunya si tukang tambal ban ini kan ingin terkenal tapi caranya lebay bin konyol. Hanya satu tujuannya agar Jokowi berikan PL.

Yang paling parah jokowi belum mengumumkan nama kabinetnya justru si tukang tambal ban sudah kepo. Itu sama dengan anjing berlalu kafilah menggonggong atau kalau di FB itu artinya  Belum ada status tetapi sudah di like.

Di orang batak ada istilah “pattang sobilak”. Untuk terkenal agar disegani dan dinilai berkontribusi mencapuri yang bukan keahliannya. Maka dalam satu cerita seorang perantau asal lae itam kembali ke desanya membawa HP. Karena sudah berhasil si perantau mentraktir warga desa di warung tuak. Tiba tiba siperantau melihat sinyal ponselnya hilang. Lantas berkata hilang sinyal hpnya..

Nah dari sudut muncul pahlawan kesiangan yang merasa jagoan langsung berdiri dan berteriak“ unang adong na kaluar sian kode on. Sahalion dope lae on mulak tu huta langsung mago sinyalnya. Tolong mangaku ise manakko. Paulak hamu, anggo daong huputari annon sada sada” hehehe.

Nah ini contoh orang yang tidak mengerti apa apa tapi sok tahu. Maksud hati menakut nakuti. Namun yang didapat penilaian longor  sok ngerti. Ancamannya yang membabi buta justru menimbulkan lawakan konyol. Bayangkan betapa lucunya sudah babi , buta pula hehehe.

Memang tidak mudah untuk  naik kelas. Dibutuhkan belajar keras dari guru yang benar.  Nah beginilah orang Kalau salah guru. Apalagi belajar tanpa guru. Hasilnya pasti demikian. Jokowi mau ganti menteripun dibekinginya. Nanti praktisi akademis membedah seputar menteri tidak mampu berdebat.

Untuk naik kelas sebenarnya tidak sulit cukup menjadi diri sendiri dan propesional dibidangnya. Jika anda tukang tambal ban maka bahaslah bagaimana cara membuka ban yang baik. Penempatan  pentil agar tidak bocor halus  dan hafal nomor kunci roda. Itu baru benar dan wajar. (Yang Miring :  Hendrik)

Tentang Penulis

Hendrik Situmeang

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar